Gibran Soroti Pegawai SPPG yang Diduga Ejek Korban Keracunan MBG di Karo

Bagikan

Gibran Soroti Pegawai SPPG yang Diduga Ejek Korban Keracunan MBG di Karo
Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka saat menjenguk korban keracunan MBG di Rumah Sakit (RS) Efarina Etaham, Berastagi, Karo, Sumatra Utara, Jumat (11/9/2026). (Foto: Sekretariat Wakil Presiden RI)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka menyoroti video seorang pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bantul yang dinilai mengejek korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Karo, Sumatera Utara.

Gibran mengunggah video tersebut melalui akun Instagram pribadinya pada Minggu (20/9/2026). Ia menyayangkan ucapan yang disampaikan pria dalam video tersebut, terlebih karena dikaitkan dengan kondisi anak yang sebelumnya menjadi korban keracunan MBG.

“Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Mari kita bersama menjaga ruang publik yang aman dan ramah bagi semua. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan,” ujar Gibran.

Video yang diunggah Gibran memperlihatkan seorang pria sedang menyantap sepotong chicken katsu. Setelah mencicipi makanan tersebut, pria itu kemudian mengucapkan kalimat yang ramai dikaitkan dengan kondisi salah satu korban keracunan MBG di Kabupaten Karo.

“Gua makan chicken katsu masakan kemarin apakah masih enak oh tidak. Ingatanku hilang 70 persen,” kata pria tersebut dalam video.

Ucapan itu kemudian menjadi sorotan dan dinilai warganet sebagai sindiran terhadap Febiona Purba, siswi SMK Bersama Berastagi, Karo, yang sebelumnya dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menjadi korban keracunan massal yang dikaitkan dengan program MBG.

Gibran Ingatkan Anak Korban Tak Boleh Jadi Sasaran Perundungan

Gibran menilai pernyataan dalam video tersebut tidak semestinya disampaikan di ruang publik. Terlebih, persoalan yang disinggung berkaitan dengan anak-anak yang sebelumnya mengalami dampak kesehatan setelah mengonsumsi makanan dalam program MBG.

Menurut Gibran, anak-anak yang telah menjadi korban semestinya mendapatkan perlindungan dan dukungan, bukan justru menjadi sasaran perundungan.

Pernyataan tersebut disampaikan Gibran bersamaan dengan cuplikan dirinya ketika menjenguk korban keracunan MBG. Dalam video yang diunggahnya, Gibran terlihat menyampaikan permintaan maaf kepada korban dan keluarganya.

“Pak saya yang minta maaf, Pak. Saya minta maaf sekali atas kejadian ini. Kami pastikan anak-anaknya pulih semua ya, sampai benar-benar sembuh total ya,” ujar Gibran dalam cuplikan tersebut.

Unggahan tersebut memperlihatkan sikap Gibran yang menempatkan kondisi korban sebagai perhatian utama di tengah munculnya polemik terkait video pegawai SPPG.

Baca Juga :  Titik Api Karhutla di Kalimantan Bertambah, Jarak Pandang 1-2 Kilometer

Video Pegawai SPPG Jadi Sorotan

Video seorang pria yang disebut sebagai staf dapur MBG di Bantul itu menjadi perhatian setelah potongan ucapannya beredar di media sosial.

Dalam video tersebut, pria itu tidak secara langsung menyebut nama korban maupun Kabupaten Karo dalam kalimat yang disampaikannya. Namun, pernyataannya kemudian dikaitkan warganet dengan pemberitaan mengenai kondisi salah satu korban keracunan MBG di Karo.

Kaitan tersebut yang kemudian memicu sorotan, khususnya karena terdapat bagian ucapan mengenai hilangnya daya ingat yang dianggap menyerupai informasi mengenai kondisi korban.

Perlu dibedakan antara isi video yang terlihat dan interpretasi yang berkembang di media sosial. Klaim bahwa ucapan tersebut memang ditujukan kepada korban tertentu merupakan penilaian yang muncul setelah video beredar dan tidak dapat dipastikan hanya dari potongan video tersebut.

Polemik Keracunan MBG

Kasus ini muncul di tengah perhatian publik terhadap pelaksanaan program MBG, terutama ketika terdapat laporan mengenai peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan program tersebut.

Bagi korban dan keluarga, penanganan kondisi kesehatan menjadi persoalan utama. Karena itu, munculnya konten yang dianggap menyindir atau mengejek korban dapat menimbulkan persoalan lain di ruang publik.

Gibran melalui unggahannya meminta agar ruang publik tetap dijaga sebagai tempat yang aman dan ramah bagi semua, terutama bagi anak-anak.

“Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan,” tegasnya.

Pernyataan Wapres tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa persoalan yang menyangkut korban anak tidak hanya berkaitan dengan penanganan kesehatan, tetapi juga perlindungan mereka dari tekanan dan perundungan di ruang publik.

Sementara itu, video yang menjadi sorotan tersebut perlu ditelusuri secara utuh, termasuk konteks pembuatannya dan pihak yang menyampaikan pernyataan, agar tidak terjadi kesimpulan hanya berdasarkan potongan video yang beredar di media sosial. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait