Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara DEO Sorong, Jarak Pandang Turun hingga 1.000 Meter

Bagikan

Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara DEO Sorong, Jarak Pandang Turun hingga 1.000 Meter
Kabut asap menyelimuti kawasan Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, Papua Barat Daya, yang berdampak terhadap penurunan jarak pandang dan penyesuaian sejumlah jadwal penerbangan. (Foto: Istimewa)

SORONG, NUSANTARA INFO: Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, Papua Barat Daya. Jarak pandang di sekitar bandara menurun hingga 1.000 meter dan menyebabkan sejumlah penerbangan mengalami penundaan serta penyesuaian jadwal.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I DEO Sorong, Ahmad Bisri, mengatakan jarak pandang merupakan salah satu parameter penting dalam menentukan kondisi cuaca penerbangan, selain suhu, tekanan udara, serta arah dan kecepatan angin.

Menurut Ahmad, jarak pandang terburuk terjadi pada Rabu (7/10/2026), yakni hanya mencapai 1.000 meter.

Sementara pada Kamis (8/10/2026) pagi, jarak pandang kembali turun hingga 1.500 meter sekitar pukul 06.30 WIT. Kondisi tersebut bertepatan dengan waktu kedatangan sejumlah pesawat dari Makassar dan Jakarta.

“Jadi kemarin yang 1.000 meter. Yang hari ini, pagi tadi itu di 1.500 meter di 21.30 UTC atau di sekitar jam setengah 7. Ini jam-jam landing-nya pesawat-pesawat yang dari Makassar maupun dari Jakarta,” kata Ahmad saat konferensi pers di Bandara DEO Sorong, Kamis (8/10/2026).

Jarak Pandang Sempat Turun 1.500 Meter

Ahmad menjelaskan, penurunan jarak pandang dipengaruhi kabut asap yang muncul di tengah kondisi cuaca kering.

Pada Kamis pagi, jarak pandang sempat berada di kisaran 2.000 meter sejak pukul 05.00 WIT. Kondisi kemudian memburuk dengan jarak pandang turun menjadi 1.500 meter sekitar pukul 06.00 WIT.

Namun, kondisi berangsur membaik setelahnya. Jarak pandang kemudian meningkat hingga sekitar 3.000 meter.

“Untuk saat ini, jarak pandang juga masih di 3 kilo, di 3.000 meter,” ujar Ahmad.

Dalam kondisi normal, lanjut dia, jarak pandang pada pagi hari di Sorong umumnya berada di atas 5 kilometer. Sementara pada siang hingga malam hari, jarak pandang dapat mencapai 10 kilometer atau lebih.

Kondisi normal tersebut memungkinkan pesawat melakukan proses lepas landas maupun pendaratan dengan lebih optimal.

Namun, ketika jarak pandang menurun akibat kabut asap, keputusan untuk melakukan pendaratan maupun pengalihan penerbangan tetap berada di tangan pilot.

Jarak Pandang dari Darat Belum Tentu Sama dari Udara

Ahmad menjelaskan, kondisi jarak pandang yang terlihat dari permukaan tanah belum tentu sama dengan kondisi yang dihadapi pilot ketika berada di udara.

Karena itu, informasi jarak pandang yang disampaikan oleh pihak meteorologi menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi pilot dalam menentukan keputusan operasional penerbangan.

“Kadang kami yang di bawah melihat jarak pandang mendatar ini, karena visibility atau jarak pandang itu kami mengukurnya ada aturan-aturan tertentu. Tapi kadang dari pilot, waktu kemarin kami ada bincang-bincang dengan Garuda, bahwa jarak pandang yang kami berikan 4.000, 3.000 atau 5.000, dari atas itu cuma 700,” katanya.

Untuk membantu pemantauan kondisi di landasan, Stasiun Meteorologi DEO Sorong juga memiliki perangkat Runway Visual Range (RVR).

Informasi mengenai cuaca, termasuk jarak pandang, diperbarui secara berkala dan disampaikan kepada pihak bandara, AirNav, serta pengguna jasa penerbangan.

1.446 Titik Panas Terdeteksi di Papua Barat Daya

Kondisi kabut asap di Sorong juga tidak terlepas dari tingginya aktivitas titik panas di wilayah Papua Barat Daya.

Ahmad mengatakan, berdasarkan pemantauan BMKG sepanjang 1-8 Oktober 2026, tercatat sebanyak 1.446 titik api di wilayah Papua Barat Daya.

Rinciannya, Kota Sorong sebanyak 18 titik, Kabupaten Sorong 149 titik, Sorong Selatan 695 titik, Raja Ampat 368 titik, Tambrauw 142 titik, dan Maybrat 91 titik.

“Rinciannya, Kota Sorong 18 titik, Kabupaten Sorong 149 titik, Sorong Selatan 695 titik, Raja Ampat 368 titik, Tambrauw 142 titik, dan Maybrat 91 titik,” ungkap Ahmad.

Baca Juga :  Ciptakan Mudik Aman dan Nyaman, Polsek Pesanggrahan Buka Penitipan Kendaraan Gratis

Sementara sepanjang September 2026, BMKG mencatat sekitar 2.240 titik api di Papua Barat Daya.

Tingginya aktivitas titik panas tersebut menjadi perhatian karena asap dari kebakaran dapat menurunkan jarak pandang, terutama ketika kondisi atmosfer mendukung terjadinya akumulasi asap di sekitar wilayah bandara.

Dampaknya tidak hanya terhadap kenyamanan masyarakat, tetapi juga dapat berpengaruh langsung terhadap kelancaran dan aspek keselamatan operasional penerbangan.

AirNav Tetap Layani Penerbangan Sesuai Prosedur

Manager Operasi Tower 1 AirNav Indonesia Cabang Sorong, Hery Purnomo, mengatakan kabut asap yang mulai berdampak sejak Minggu turut memengaruhi pelayanan navigasi penerbangan.

Meski demikian, AirNav tetap memberikan pelayanan berdasarkan prosedur operasional dan standar keselamatan penerbangan yang berlaku.

“Jikalau memang ada imbas kepada penerbangan, pilot yang akan memasuki Bandara DEO Sorong tentunya kami akan memberikan pelayanan sesuai dengan SOP kami, di mana kami memiliki SOP apabila visibilitas atau jarak pandang di bawah standar,” kata Hery.

Hery menegaskan, informasi mengenai kondisi cuaca dan jarak pandang yang diberikan kepada maskapai berasal dari data resmi BMKG.

AirNav, kata dia, tidak diperkenankan memberikan informasi di luar data resmi yang dikeluarkan BMKG.

“Apabila ada penerbangan atau pilot memutuskan untuk mengalihkan penerbangan atau apa, itu artinya adalah keputusan dari pilot atau penerbang itu sendiri. Kami hanya sebatas memberikan informasi, keputusan ada di pilot untuk melanjutkan atau mengalihkan penerbangan apabila jarak pandang di bawah minimum,” ujarnya.

Sejumlah Penerbangan Dialihkan dan Ditunda

Kepala Bandara DEO Sorong, Asep Soekarjo, mengatakan fasilitas dan fungsi operasional bandara dalam kondisi baik.

Namun, kondisi alam berupa kabut asap menjadi faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh pengelola bandara.

“Secara fasilitas, kita tetap bagus, atau secara fungsi dengan baik, tetapi keadaan cuaca atau keadaan alam yang tidak memungkinkan,” kata Asep.

Menurut Asep, sejak Minggu telah terjadi sejumlah pengalihan dan penundaan penerbangan akibat kondisi cuaca.

Beberapa operator penerbangan memilih menunggu hingga kondisi cuaca dan jarak pandang membaik sebelum melanjutkan penerbangan menuju Sorong.

Garuda Ubah Jadwal Penerbangan Jakarta-Sorong

Dari sisi maskapai, General Manager Garuda Indonesia Sorong, Nadia, mengatakan pihaknya melakukan penyesuaian jadwal penerbangan setelah melihat tren penurunan jarak pandang dalam beberapa hari terakhir.

Garuda yang sebelumnya menjadwalkan keberangkatan dari Jakarta pada pukul 00.10 WIB mengubah waktu keberangkatan menjadi pukul 05.00 WIB.

“Garuda yang sebelumnya menjadwalkan keberangkatan dari Jakarta pukul 00.10 WIB, mengubah waktu keberangkatan menjadi pukul 05.00 WIB,” ungkap Nadia.

Perubahan jadwal tersebut membuat penerbangan yang sebelumnya diperkirakan tiba di Sorong sekitar pukul 06.20 WIT menjadi sekitar pukul 11.00 WIT.

Nadia mengatakan pengaturan ulang jadwal dilakukan dengan mempertimbangkan kecenderungan jarak pandang yang mulai membaik sekitar pukul 11.00 WIT.

“Hal ini kita lakukan untuk menghindari penumpukan lagi dan juga terkait dengan tren beberapa hari ini di mana memang pukul 11.00 WIT itu sudah membaik,” kata Nadia.

Sebelum dilakukan perubahan jadwal secara tetap, penerbangan Garuda Indonesia dari Sorong menuju Jakarta mengalami keterlambatan selama tiga hari berturut-turut.

“Pada Senin, Selasa, dan Rabu, masing-masing terdapat satu penerbangan yang mengalami keterlambatan dengan durasi rata-rata lima hingga enam jam,” pungkas Nadia.

Kondisi kabut asap dan penurunan jarak pandang tersebut membuat pengguna jasa penerbangan di Bandara DEO Sorong perlu memperhatikan informasi terbaru dari maskapai dan otoritas bandara sebelum melakukan perjalanan. Penyesuaian jadwal dilakukan sebagai bagian dari langkah antisipasi terhadap kondisi cuaca dan keselamatan operasional penerbangan. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait