
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Indonesia mengalami penurunan pada Agustus 2026. Namun, perbaikan kondisi pasar kerja tersebut belum dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok masyarakat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pengangguran usia muda justru mengalami peningkatan dan menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi.
Berdasarkan laporan Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2026 yang dipublikasikan Kamis (5/11/2026), TPT Indonesia tercatat sebesar 4,75 persen. Angka tersebut turun 0,09 persen poin dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 4,85 persen.
Meski secara nasional menunjukkan perbaik
an, kelompok penduduk usia 15–24 tahun justru menghadapi tantangan lebih besar dalam memperoleh pekerjaan.
BPS mencatat, TPT kelompok usia muda mencapai 17,50 persen pada Agustus 2026. Angka ini meningkat 0,61 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 16,89 persen.
Kondisi tersebut berbeda jauh dibandingkan kelompok usia 25–59 tahun yang memiliki TPT sebesar 2,78 persen. Sementara itu, kelompok usia 60 tahun ke atas mencatat tingkat pengangguran paling rendah, yakni 1,44 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa penurunan pengangguran nasional belum sepenuhnya diikuti oleh perbaikan kesempatan kerja bagi angkatan kerja muda.
Bahkan, berdasarkan catatan BPS selama periode Agustus 2024 hingga Agustus 2026, kelompok usia 15–24 tahun secara konsisten menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi.
Jumlah Pengangguran Indonesia Masih 7,38 Juta Orang
Di tengah penurunan tingkat pengangguran, jumlah penduduk yang belum memperoleh pekerjaan di Indonesia masih tergolong besar.
BPS mencatat terdapat 7,38 juta orang penganggur pada Agustus 2026. Jumlah tersebut berkurang sekitar 77.000 orang dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 7,46 juta orang.
Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 155,37 juta orang atau bertambah 1,366 juta orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, jumlah penduduk bekerja tercatat sebanyak 147,99 juta orang. Angka tersebut meningkat 1,443 juta orang dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 146,54 juta orang.
Adapun jumlah penduduk usia kerja mencapai 220,91 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 155,37 juta orang masuk kategori angkatan kerja dan 65,54 juta orang bukan angkatan kerja.
BPS menjelaskan, Tingkat Pengangguran Terbuka merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja.
Dengan TPT sebesar 4,75 persen, artinya terdapat sekitar lima orang penganggur dari setiap 100 orang angkatan kerja di Indonesia.
Lulusan SMK Masih Jadi Kelompok dengan Pengangguran Tertinggi
Persoalan pengangguran juga terlihat berdasarkan tingkat pendidikan. BPS mencatat lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki TPT tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Pada Agustus 2026, TPT lulusan SMK mencapai 8,20 persen. Meski demikian, angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan Agustus 2025 sebesar 8,63 persen dan Agustus 2024 sebesar 9,01 persen.
Setelah SMK, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) mencatat tingkat pengangguran sebesar 6,87 persen.
Sementara itu, TPT lulusan Diploma IV, S1, S2, dan S3 mencapai 5,09 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan lulusan Diploma I/II/III yang sebesar 4,18 persen.
Adapun TPT lulusan SMP tercatat sebesar 3,78 persen, sedangkan penduduk dengan pendidikan SD ke bawah sebesar 2,24 persen.
Menariknya, jika dilihat berdasarkan komposisi jumlah penganggur, lulusan SMA justru menyumbang porsi terbesar.
BPS mencatat sebanyak 32,31 persen penganggur merupakan lulusan SMA. Berikutnya, lulusan SMK menyumbang 24,65 persen, lulusan SMP sebesar 16,45 persen, dan lulusan SD ke bawah sebesar 14,61 persen.
Sementara itu, lulusan Diploma IV hingga S3 memiliki porsi 11,28 persen. Adapun lulusan Diploma I/II/III menjadi kelompok dengan porsi terkecil, yakni 1,99 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan pengangguran masih dihadapi berbagai kelompok pendidikan, termasuk lulusan perguruan tinggi.
Pengangguran Perempuan Lebih Tinggi daripada Laki-Laki
Berdasarkan jenis kelamin, BPS mencatat tingkat pengangguran perempuan pada Agustus 2026 mencapai 4,93 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang sebesar 4,64 persen.
Kondisi ini mengalami perubahan dibandingkan Agustus 2025. Saat itu, TPT perempuan sebesar 4,84 persen, sedangkan laki-laki mencapai 4,85 persen.
Dengan demikian, TPT laki-laki mengalami penurunan 0,21 persen poin dalam setahun. Sebaliknya, TPT perempuan justru meningkat 0,09 persen poin.
Perbedaan juga terlihat pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Pada Agustus 2026, TPAK laki-laki mencapai 84,16 persen, sementara perempuan hanya sebesar 56,37 persen.
Dibandingkan tahun sebelumnya, TPAK laki-laki turun 0,24 persen poin dan perempuan turun 0,26 persen poin.
Pengangguran Perkotaan Lebih Tinggi, Papua Catat Angka Terbesar
Kesenjangan tingkat pengangguran juga terlihat berdasarkan wilayah tempat tinggal.
BPS mencatat TPT perkotaan pada Agustus 2026 mencapai 5,53 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan perdesaan yang sebesar 3,45 persen.
Meski demikian, kedua wilayah sama-sama mengalami penurunan dibandingkan Agustus 2025. TPT perkotaan turun 0,22 persen poin, sedangkan perdesaan turun 0,01 persen poin.
Sementara itu, berdasarkan provinsi, Papua mencatat tingkat pengangguran tertinggi pada Agustus 2026 sebesar 7,12 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan Agustus 2025 yang mencapai 6,96 persen.
Provinsi lain dengan tingkat pengangguran relatif tinggi antara lain Jawa Barat sebesar 6,67 persen, Banten sebesar 6,61 persen, Papua Barat Daya sebesar 6,56 persen, dan Kepulauan Riau sebesar 6,37 persen.
Sebaliknya, Bali menjadi provinsi dengan tingkat pengangguran terendah, yakni 1,42 persen. Angka tersebut turun dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 1,49 persen.
Provinsi lain dengan TPT relatif rendah adalah Papua Pegunungan sebesar 1,83 persen, Nusa Tenggara Barat sebesar 3,03 persen, DI Yogyakarta sebesar 3,33 persen, dan Bengkulu sebesar 3,40 persen.
Setengah Pengangguran Justru Mengalami Peningkatan
Selain pengangguran terbuka, BPS juga mencatat peningkatan jumlah penduduk yang bekerja tetapi belum memperoleh jam kerja optimal.
Tingkat setengah pengangguran pada Agustus 2026 mencapai 8,68 persen. Angka tersebut meningkat 0,76 persen poin dibandingkan Agustus 2025.
Setengah penganggur merupakan penduduk yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu dan masih mencari pekerjaan atau bersedia menerima pekerjaan lain.
Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, tingkat setengah pengangguran laki-laki mencapai 8,89 persen, sedangkan perempuan sebesar 8,36 persen.
Keduanya mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat setengah pengangguran laki-laki naik 0,59 persen poin, sementara perempuan meningkat 1,03 persen poin.
Di sisi lain, tingkat pekerja paruh waktu justru turun menjadi 23,85 persen atau berkurang 0,92 persen poin dibandingkan Agustus 2025.
BPS juga mencatat sebanyak 67,47 persen penduduk bekerja merupakan pekerja penuh dengan jam kerja minimal 35 jam per minggu. Sementara itu, 32,53 persen lainnya merupakan pekerja tidak penuh.
Sektor Informal Masih Mendominasi Lapangan Kerja
Dari sisi status pekerjaan, mayoritas penduduk Indonesia masih bekerja di sektor informal.
Pada Agustus 2026, jumlah pekerja informal mencapai 85,73 juta orang atau 57,93 persen dari total penduduk bekerja. Sementara itu, pekerja formal tercatat sebanyak 62,25 juta orang atau 42,07 persen.
Proporsi pekerja formal tersebut turun 0,13 persen poin dibandingkan Agustus 2025.
Berdasarkan lapangan usaha, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 41,73 juta orang atau 28,20 persen dari total penduduk bekerja.
Berikutnya, sektor Perdagangan Besar dan Eceran menyerap 26,42 juta orang atau 17,86 persen. Sementara sektor Industri menyerap 20,35 juta orang atau 13,75 persen.
Adapun sektor Penyediaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas, dan Udara Dingin menjadi lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja paling kecil, yakni 0,22 persen.
Secara keseluruhan, data ketenagakerjaan BPS Agustus 2026 menunjukkan bahwa penurunan pengangguran nasional belum sepenuhnya mencerminkan pemerataan kesempatan kerja.
Tingginya pengangguran usia muda, lulusan SMK, serta meningkatnya setengah pengangguran menjadi gambaran bahwa tantangan pasar kerja Indonesia tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pekerjaan, tetapi juga kesesuaian kompetensi dan kualitas kesempatan kerja. (*)






