Birokrasi hingga Diskriminasi, Ini Penyebab Tenaga Kerja Asing Hengkang dari Jerman

Bagikan

Birokrasi hingga Diskriminasi, Ini Penyebab Tenaga Kerja Asing Hengkang dari Jerman
Suasana kawasan Gerbang Brandenburg di Berlin, Jerman. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Nusantara Info: Jerman masih menjadi salah satu tujuan utama tenaga kerja asing berkat tingginya kebutuhan pekerja terampil dan prospek ekonomi yang menjanjikan. Namun, di balik daya tarik tersebut, semakin banyak pendatang yang justru memilih meninggalkan negara itu setelah beberapa tahun menetap.

Temuan terbaru dari Institut Penelitian Pasar Kerja Jerman (Institute for Employment Research/IAB) menunjukkan bahwa keputusan tenaga kerja asing untuk hengkang bukan dipicu oleh satu faktor tunggal. Kombinasi birokrasi yang rumit, diskriminasi, kendala bahasa, hingga alasan keluarga menjadi penyebab utama yang mendorong mereka mencari kehidupan di negara lain.

Hasil penelitian ini menjadi peringatan bagi pemerintah Jerman yang tengah menghadapi kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor strategis, terutama kesehatan, perawatan lansia, teknologi, hingga industri manufaktur.

Studi IAB: Retensi Migran Sama Pentingnya dengan Rekrutmen

Peneliti IAB, Laura Goßner, menegaskan bahwa keberhasilan kebijakan migrasi tidak hanya diukur dari banyaknya tenaga kerja asing yang berhasil direkrut, tetapi juga dari kemampuan mempertahankan mereka dalam jangka panjang.

“Siapa pun yang ingin mengelola imigrasi secara berhasil juga harus memahami mengapa orang memilih pergi,” ujar Goßner dalam konferensi pers di Berlin.

Menurutnya, tenaga kerja asing membutuhkan kesempatan yang setara, prosedur administrasi yang jelas, dukungan memadai, serta lingkungan sosial yang memungkinkan mereka membangun masa depan di Jerman.

Penelitian tersebut dilakukan melalui survei daring terhadap migran berusia 18 hingga 65 tahun yang datang ke Jerman hingga April 2025.

Para responden diminta menjelaskan alasan mereka memutuskan meninggalkan Jerman serta faktor-faktor yang paling memengaruhi keputusan tersebut.

Alasan Keluarga Masih Menjadi Faktor Terbesar

Berdasarkan hasil survei, alasan keluarga masih menjadi penyebab paling dominan.

Banyak tenaga kerja asing memilih kembali ke negara asal karena pasangan atau anak mereka tinggal di luar Jerman.

Namun di luar faktor personal tersebut, penelitian menemukan sejumlah persoalan yang sebenarnya dapat diperbaiki melalui kebijakan pemerintah.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • birokrasi administrasi yang berbelit;
  • sulit memperoleh izin tinggal dan kewarganegaraan;
  • mahalnya biaya administrasi;
  • lambatnya pengakuan ijazah luar negeri;
  • terbatasnya akses pembelajaran bahasa Jerman;
  • sulit memperoleh perumahan.

Siapa yang Paling Banyak Meninggalkan Jerman?

Peneliti IAB, Theresa Koch, menjelaskan bahwa kelompok yang paling sering meninggalkan Jerman memiliki karakteristik tertentu.

Mereka umumnya berusia lebih muda, baru tinggal beberapa tahun di Jerman, memiliki pasangan atau keluarga di luar negeri, kemampuan bahasa Jermannya terbatas tetapi cukup fasih menggunakan bahasa Inggris.

Data penelitian menunjukkan sekitar 60 persen migran memilih kembali ke negara asal, sedangkan 40 persen lainnya berpindah ke negara ketiga.

Negara yang menjadi tujuan favorit adalah Spanyol, Swiss, Italia, dan Kroasia.

Kepala Divisi Riset Migrasi, Integrasi, dan Pasar Kerja Internasional IAB, Yuliya Kosyakova, mengatakan kondisi ini menunjukkan bahwa Jerman kini bersaing ketat dengan negara-negara Eropa lain dalam menarik sekaligus mempertahankan tenaga kerja berkualitas.

Birokrasi Dinilai Menjadi Hambatan Terbesar

Keluhan terbesar para migran berkaitan dengan proses administrasi yang dinilai lambat dan membingungkan.

Mereka mengaku mengalami kesulitan dalam mengurus visa, izin tinggal, naturalisasi, pengakuan ijazah, dan dokumen pekerjaan.

Tidak sedikit pula yang melaporkan pengalaman diskriminasi maupun perlakuan tidak menyenangkan saat berurusan dengan kantor-kantor pemerintah.

Menurut Laura Goßner, pengalaman buruk tersebut berpengaruh langsung terhadap rasa memiliki para pendatang terhadap Jerman.

“Bila prosedur administrasi dianggap terlalu lama, sulit dipahami, atau sulit diakses, maka hal itu akan memengaruhi bagaimana mereka memandang masa depan mereka di Jerman,” jelasnya.

Baca Juga :  Ditjen Bina Adwil Kirim Tim dan Tenda Posko, Pastikan Penanganan Bencana Sumut Berjalan Efektif

Penelitian IAB juga menemukan bahwa semakin buruk pengalaman seseorang menghadapi birokrasi, semakin rendah pula perasaan mereka diterima sebagai bagian dari masyarakat Jerman.

Bahasa Jerman Menjadi Penentu Bertahan atau Tidak

Ketua Asosiasi Rekrutmen Internasional, Tilman Frank, menilai kemampuan berbahasa Jerman merupakan faktor paling menentukan keberhasilan integrasi tenaga kerja asing.

Selama bertahun-tahun, organisasinya telah mendampingi ribuan tenaga kesehatan, guru pendidikan anak usia dini, hingga fisioterapis dari berbagai negara.

Menurut Frank, kegagalan sering kali sudah dimulai sejak proses rekrutmen.

“Jika sasaran rekrutmen salah, proses seleksi tidak tepat, dan pembelajaran bahasa tidak didampingi dengan baik, maka kemungkinan mereka kembali ke negara asal menjadi sangat besar,” katanya.

Sebaliknya, pekerja yang memperoleh pelatihan bahasa secara memadai sebelum berangkat ke Jerman memiliki peluang bertahan jauh lebih tinggi.

Kenya, India, dan Vietnam Jadi Sumber Baru Tenaga Kerja

Frank mengungkapkan bahwa saat ini semakin banyak pekerja dari Kenya, India, dan Vietnam yang memilih membangun karier di Jerman.

Di Kenya, pemerintah mendorong kaum muda mencari pekerjaan di luar negeri untuk mengurangi pengangguran.

Sementara di India dan Vietnam, minat bekerja di Jerman banyak didorong oleh keluarga yang melihat pendidikan vokasi di negara tersebut sebagai investasi masa depan.

Meski demikian, Jerman masih menghadapi kekurangan tenaga kerja serius, terutama di sektor perawatan lansia.

Karena itu, Frank mendesak pemerintah memperkuat pembelajaran bahasa Jerman sejak para pekerja masih berada di negara asal.

Ia menilai pendekatan tersebut jauh lebih efektif dibandingkan membiarkan pekerja datang tanpa kemampuan bahasa yang memadai.

Penempatan Kerja yang Tidak Sesuai Kompetensi

Selain kendala bahasa, banyak pekerja asing juga kecewa karena pekerjaan yang diterima tidak sesuai dengan keahlian mereka.

Frank mencontohkan tenaga kesehatan yang sebelumnya bekerja sebagai perawat rumah sakit di negara asal justru ditempatkan di panti jompo untuk menangani perawatan dasar setelah tiba di Jerman.

Menurutnya, ketidaksesuaian ekspektasi tersebut sering kali tidak dijelaskan sejak awal proses rekrutmen sehingga memicu kekecewaan dan akhirnya mendorong pekerja memilih pindah.

Pemerintah Mulai Berbenah

Meski menghadapi berbagai tantangan, Frank menilai pemerintah Jerman mulai menunjukkan langkah perbaikan.

Beberapa kebijakan yang telah dijalankan antara lain:

  • sistem pelayanan terpusat Badan Ketenagakerjaan Federal;
  • pembentukan kantor imigrasi terpusat di negara bagian Hessen;
  • rencana pendirian agen Work and Stay oleh pemerintah federal untuk mendampingi tenaga kerja asing sejak kedatangan hingga proses integrasi.

Namun demikian, digitalisasi layanan publik dinilai masih berjalan lambat.

Kekurangan pegawai di berbagai kantor pemerintah juga menyebabkan proses administrasi belum berjalan optimal.

Menurut Frank, hingga kini Jerman masih belum memiliki sistem digital nasional yang benar-benar terintegrasi untuk seluruh layanan keimigrasian.

Tantangan Besar Jerman Mempertahankan Talenta Global

Temuan IAB memperlihatkan bahwa tantangan Jerman kini bukan lagi sekadar menarik tenaga kerja asing, tetapi juga memastikan mereka ingin bertahan.

Di tengah persaingan dengan negara-negara Eropa lain, keberhasilan mempertahankan pekerja terampil akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menyederhanakan birokrasi, mempercepat digitalisasi layanan, memperluas akses pembelajaran bahasa, serta menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan bebas diskriminasi.

Tanpa pembenahan tersebut, Jerman berisiko terus kehilangan tenaga kerja yang justru sangat dibutuhkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan mengatasi krisis kekurangan pekerja dalam beberapa dekade mendatang. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait