
Musim kemarau diperkirakan meluas hingga Agustus dan September 2026. BMKG mengimbau pemerintah, petani, hingga masyarakat meningkatkan langkah antisipasi terhadap risiko kekeringan dan karhutla.
Jakarta, Nusantara Info: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebanyak 10 wilayah di Indonesia akan memasuki puncak musim kemarau pada Juli 2026. Kondisi tersebut mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 12,26 persen wilayah daratan Indonesia.
Informasi tersebut disampaikan BMKG melalui keterangan resmi yang dipublikasikan di laman bmkg.go.id dan dikutip pada Senin (29/6/2026).
BMKG mengingatkan bahwa puncak kemarau akan berlangsung secara bertahap di berbagai wilayah hingga September 2026, sehingga diperlukan langkah mitigasi sejak dini untuk mengurangi dampaknya terhadap sektor pertanian, sumber daya air, energi, kesehatan, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Daftar Wilayah yang Diprediksi Masuki Puncak Kemarau pada Juli 2026
BMKG mencatat wilayah yang diperkirakan mengalami puncak musim kemarau pada Juli 2026 meliputi:
- Sebagian wilayah Sumatera
- Sebagian kecil Kalimantan
- Sebagian kecil Pulau Jawa
- Nusa Tenggara Timur bagian selatan
- Sulawesi Barat bagian utara
- Sulawesi Tengah bagian barat
- Sebagian kecil Maluku
- Papua Barat Daya bagian selatan
- Papua Barat bagian tengah
- Papua bagian timur
Wilayah-wilayah tersebut diperkirakan akan mengalami penurunan curah hujan secara signifikan sehingga berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, terutama di daerah yang bergantung pada pasokan air hujan.
Puncak Kemarau Meluas pada Agustus
BMKG juga memproyeksikan bahwa cakupan wilayah yang memasuki puncak musim kemarau akan semakin luas pada Agustus 2026.
Daerah yang diperkirakan mencapai puncak kemarau pada periode tersebut meliputi:
- Sumatra bagian tengah
- Sebagian besar Pulau Jawa
- Bali
- Nusa Tenggara Barat
- Sebagian Nusa Tenggara Timur
- Sebagian besar Kalimantan
- Sebagian Sulawesi
- Sebagian Maluku dan Maluku Utara
- Sebagian besar Pulau Papua
Periode Agustus diperkirakan menjadi fase ketika musim kemarau berlangsung paling luas di Indonesia.
September Menjadi Gelombang Terakhir Puncak Kemarau
Sementara itu, wilayah yang diperkirakan memasuki puncak kemarau pada September 2026 antara lain:
- Kepulauan Bangka Belitung
- Sebagian besar Sumatra Selatan
- Lampung
- Sebagian kecil Pulau Jawa
- Sebagian besar Nusa Tenggara Timur
- Kalimantan bagian selatan
- Sebagian besar Sulawesi
- Sebagian besar Maluku Utara
- Sebagian Maluku
- Papua Pegunungan bagian tengah
Dengan pola tersebut, BMKG menilai distribusi puncak musim kemarau tahun ini berlangsung bertahap sesuai karakteristik iklim di masing-masing wilayah.
Sebanyak 200 Zona Musim Sudah Memasuki Kemarau
Selain proyeksi puncak musim kemarau, BMKG mencatat bahwa hingga akhir Mei 2026 sebanyak 200 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.
Wilayah yang telah lebih dahulu mengalami musim kemarau meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, hingga Papua Pegunungan bagian tengah.
Data tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau telah berlangsung di sejumlah daerah dan diperkirakan terus meluas dalam beberapa bulan ke depan.
BMKG Minta Berbagai Sektor Tingkatkan Kesiapsiagaan
Menghadapi puncak musim kemarau, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi kepada berbagai sektor strategis.
Di sektor pertanian, pelaku usaha tani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi iklim serta memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, membutuhkan air lebih sedikit, dan memiliki masa tanam yang lebih singkat.
Pada sektor sumber daya air, BMKG mendorong revitalisasi waduk, optimalisasi embung, perbaikan jaringan distribusi air, serta pengelolaan cadangan air agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Sementara itu, sektor energi diminta memastikan kapasitas tampungan air di bendungan tetap mencukupi untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
BMKG juga meminta pemerintah daerah memperkuat sistem respons cepat terhadap potensi penurunan kualitas udara yang dapat meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.
Waspadai Kekeringan dan Karhutla
BMKG menegaskan bahwa kondisi cuaca yang semakin kering berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan terhadap aktivitas masyarakat apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Karena itu, BMKG bersama pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi dalam upaya pencegahan karhutla, salah satunya melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak, menghindari pembakaran lahan, serta terus memantau informasi cuaca dan iklim terbaru melalui kanal resmi BMKG agar dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi yang berkembang. (*)






