
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Persaingan industri perhotelan di Indonesia yang semakin ketat mendorong operator hotel untuk tidak sekadar memperluas jaringan, tetapi juga membangun strategi bisnis yang mampu menjaga keberlanjutan usaha. Di tengah kondisi tersebut, PT Lor International Hotel (LIH) atau Lorin Hotels terus memperkuat posisinya sebagai salah satu operator hotel lokal yang berkembang.
Di balik langkah ekspansi tersebut terdapat sosok IB Santoso, Direktur Utama PT Lor International Hotel, yang membawa pendekatan growth and partnership dalam mengembangkan bisnis hospitality.
Bagi IB Santoso, pertumbuhan perusahaan tidak semata-mata diukur dari bertambahnya jumlah properti yang dikelola. Lebih dari itu, keberhasilan operator hotel sangat ditentukan oleh kemampuan membangun hubungan jangka panjang dengan perusahaan pemilik properti atau owning company.
“Kami tidak mau dilihat sebagai operator yang cuma numpang kelola properti orang. Kami ingin menjadi partner yang benar-benar tumbuh bareng owner-nya,” ujar IB Santoso.
Filosofi tersebut menjadi salah satu landasan Lorin Hotels dalam memperluas jaringan. Hubungan antara operator dan pemilik hotel ditempatkan sebagai kemitraan strategis yang harus memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Portofolio Lorin Hotels Terus Bertambah
Berbasis di Jakarta, Lorin Hotels mengembangkan sejumlah brand dalam satu kelompok usaha, antara lain Lorin, Syariah Hotel, D’Wangsa, serta lini lodging.
Jaringan properti tersebut telah tersebar di sejumlah daerah di Indonesia. Di antaranya Lorin Solo Hotel, Lorin Sentul Hotel, Syariah Hotel Solo, Syariah Hotel Sentul, D’Wangsa Solo, New Kuta Hotel by Lorin di Bali, Mangkuluhur Residences by Lorin di Jakarta, serta Lorin Resort Belitung di kawasan Tanjung Tinggi.
Memasuki 2026, ekspansi kembali dilakukan dengan penambahan dua unit properti, yakni Tiris Pisan Village by Lorin di kawasan Puncak, Bogor, dan Padina Soho and Residence by Lorin di Jakarta Barat.
Pertambahan portofolio tersebut memperlihatkan upaya perusahaan memperluas cakupan bisnis, baik pada segmen hotel maupun akomodasi dan hunian.
Bagi manajemen, ekspansi bukan sekadar mengejar pertumbuhan jumlah kamar atau properti. Setiap destinasi memiliki karakter pasar dan kebutuhan yang berbeda sehingga strategi pengelolaan perlu disesuaikan dengan potensi masing-masing lokasi.
Lorin Hotels juga mulai melihat peluang di pasar internasional. Perusahaan berencana memperluas jaringan ke Arab Saudi, khususnya dengan rencana membuka hotel di Mekkah dan Madinah.
Rencana tersebut sekaligus menjadi langkah menuju pasar hospitality yang memiliki karakter berbeda dibandingkan pasar domestik. Jika terealisasi, kehadiran di dua kota tersebut dapat membuka peluang baru bagi Lorin Hotels untuk memperluas pengalaman pengelolaan akomodasi di pasar internasional.

Managed By hingga Franchise
Salah satu strategi yang dikembangkan Lorin Hotels untuk memperluas jaringan adalah menawarkan lebih dari satu model kerja sama.
Selain skema managed by, perusahaan juga menyediakan model franchise bagi pemilik hotel independen.
Dalam model managed by, operator mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan properti. Sementara melalui franchise, pemilik hotel independen dapat memanfaatkan merek, dukungan operasional, pemasaran, dan sistem manajemen yang dimiliki jaringan.
Pendekatan tersebut memberikan alternatif bagi pemilik hotel yang ingin meningkatkan daya saing propertinya tanpa harus membangun seluruh sistem operasional dan pemasaran dari awal.
“Kami ingin menjadi partner yang membantu hotel-hotel independen untuk lebih kompetitif. Model kerja sama ini memberikan solusi lengkap tanpa perlu owner pusing mikirin biaya sistem,” kata IB Santoso.
Strategi tersebut menjadi penting di tengah persaingan industri hospitality yang tidak hanya melibatkan jaringan hotel besar, tetapi juga semakin banyak hotel independen dan akomodasi alternatif.
Bagi operator, kemampuan menawarkan model kerja sama yang fleksibel dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas jaringan sekaligus menjangkau pemilik properti dengan kebutuhan bisnis yang berbeda.
Tak Seragam, Lorin Pertahankan Karakter Lokal
Ekspansi jaringan tidak lantas membuat Lorin Hotels menghilangkan identitas daerah tempat sebuah properti berada.
Sebaliknya, karakter lokal menjadi salah satu elemen yang dipertahankan dalam pengembangan properti.
Pendekatan ini terlihat dari upaya menghadirkan nuansa budaya dan karakter daerah pada masing-masing hotel. Properti di Sentul, misalnya, mencoba mengangkat atmosfer Jawa Barat. Sementara properti di Solo membawa sentuhan budaya lokal yang menjadi identitas kota tersebut.
Konsep serupa juga dikembangkan pada properti di destinasi wisata.
Di Belitung, misalnya, pendekatan resort diarahkan agar lebih dekat dengan alam sekaligus menyesuaikan karakter destinasi setempat.
Strategi tersebut menjadi pembeda di tengah kecenderungan hotel jaringan yang memiliki standar dan tampilan relatif seragam di berbagai kota.
Bagi Lorin Hotels, standar layanan tetap harus konsisten, tetapi implementasinya dapat menyesuaikan karakter daerah.
Dengan begitu, pengalaman tamu tidak hanya berhenti pada fasilitas hotel, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman mengenal destinasi.
Menempatkan Diri sebagai Tamu
Di tengah ekspansi bisnis, kualitas pelayanan tetap menjadi perhatian utama manajemen.
IB Santoso membawa filosofi sederhana kepada jajaran Lorin Hotels, yakni menempatkan diri sebagai tamu, bukan sekadar pekerja.
Filosofi tersebut mendorong karyawan untuk melihat pelayanan dari perspektif orang yang menggunakan jasa hotel.
Dengan cara pandang tersebut, persoalan kenyamanan, kebersihan, keramahan, hingga kualitas pengalaman tamu diharapkan tidak hanya dilihat sebagai bagian dari prosedur kerja, tetapi sebagai kebutuhan nyata konsumen.
Pendekatan ini juga menjadi tantangan tersendiri ketika jaringan hotel terus berkembang.
“Semakin banyak properti yang dikelola, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga konsistensi standar pelayanan di berbagai daerah dengan karakter pasar yang berbeda,” ungkap IB Santoso.
Karena itu, ekspansi jaringan harus berjalan beriringan dengan penguatan sistem operasional dan sumber daya manusia.
Ekspansi Tetap Berpijak pada Kemitraan
Ke depan, Lorin Hotels masih membuka peluang untuk memperluas jaringan, baik melalui skema managed by maupun franchise.
Kota-kota potensial dan destinasi wisata di Indonesia menjadi bagian dari ruang ekspansi perusahaan. Di sisi lain, peluang internasional mulai dibidik melalui rencana pengembangan properti di Arab Saudi.
Namun, ekspansi tersebut tetap diarahkan agar tidak mengorbankan kualitas layanan.
Bagi IB Santoso, pertumbuhan yang sehat bukan hanya tentang seberapa cepat jaringan bertambah, melainkan seberapa kuat hubungan yang dibangun bersama pemilik properti dan seberapa konsisten layanan diberikan kepada tamu.
Filosofi growth and partnership pun menjadi benang merah strategi tersebut.
Dengan portofolio yang terus berkembang, model kerja sama yang fleksibel, serta upaya mempertahankan karakter lokal, Lorin Hotels mencoba mengambil posisi sebagai operator hotel Indonesia yang tidak hanya mengejar pertumbuhan jaringan.
Lebih jauh, perusahaan ingin membangun ekosistem kemitraan dengan pemilik properti sekaligus menghadirkan pengalaman menginap yang tetap memiliki identitas lokal.
Di tengah persaingan industri hospitality yang semakin dinamis, strategi tersebut akan menjadi salah satu penentu apakah ekspansi mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. (*)






