
NDUGA, NUSANTARA INFO: Kekeringan melanda dua kampung di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan. Kondisi tersebut mulai mengancam ketahanan pangan masyarakat setelah ribuan hektare lahan pertanian mengalami gagal panen.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, kekeringan terjadi di Kampung Bowisa, Distrik Mugi, dan Kampung Mbuwa, Distrik Mbuwa.
Dampaknya cukup serius. Sekitar 1.156 kepala keluarga (KK) terancam mengalami kerawanan pangan akibat terganggunya sumber penghidupan dan produksi pertanian masyarakat.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian karena kekeringan tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air, tetapi juga memukul sektor pertanian masyarakat.
“Kondisi tersebut berdampak pada sekitar 1.156 kepala keluarga yang terancam mengalami kerawanan pangan,” kata Berton dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026).
2.325 Hektare Lahan Pertanian Gagal Panen
Tekanan terhadap ketahanan pangan warga semakin besar karena kekeringan menyebabkan 2.325 hektare lahan pertanian mengalami gagal panen.
Kondisi tersebut berpotensi mengurangi ketersediaan bahan pangan masyarakat, terutama bagi warga yang menggantungkan kebutuhan hidup dari hasil pertanian.
BNPB juga memastikan warga terdampak telah mengungsi ke Distrik Walaik. Perpindahan warga dilakukan di tengah kondisi lingkungan yang semakin sulit akibat terbatasnya sumber air dan terganggunya aktivitas pertanian.
Situasi ini membuat pemantauan terhadap kebutuhan dasar masyarakat menjadi penting, terutama pangan, air bersih, serta kebutuhan warga selama berada di lokasi pengungsian.
Berton meminta pemerintah daerah terus melakukan pendataan dan pemantauan terhadap masyarakat terdampak agar bantuan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan.
“Pemerintah daerah diharapkan terus melakukan pendataan dan pemantauan kondisi masyarakat terdampak, terutama terkait ketersediaan pangan, air bersih, dan kebutuhan dasar lainnya agar penanganan dapat dilakukan sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Kekeringan Juga Tingkatkan Risiko Karhutla
BNPB mengingatkan bahwa dampak cuaca kering tidak berhenti pada persoalan air dan pangan. Kondisi lahan yang semakin kering juga dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
BNPB secara khusus mengimbau warga tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok atau benda lain yang berpotensi menjadi sumber api secara sembarangan.
Jika menemukan titik api, warga diminta segera melaporkannya kepada petugas atau pemerintah setempat agar dapat ditangani sedini mungkin.
Pemerintah daerah juga didorong memperkuat patroli di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Kesiapan personel dan peralatan pemadaman perlu dipastikan sehingga apabila kebakaran muncul, penanganan dapat dilakukan dengan cepat.
Akses Air Bersih Jadi Perhatian
Di tengah kekeringan, penggunaan air secara bijak menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi tekanan terhadap masyarakat.
BNPB meminta warga di wilayah rawan kekeringan menggunakan air secara hemat dan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok.
Masyarakat juga diminta mengikuti informasi dan arahan pemerintah daerah, khususnya berkaitan dengan distribusi air bersih maupun bantuan lainnya.
Menurut BNPB, pemerintah daerah perlu memantau kondisi sumber air secara berkala. Pemantauan juga perlu dilakukan terhadap kondisi lahan pertanian serta kelompok masyarakat yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi.
Hal tersebut menjadi semakin penting di wilayah pegunungan seperti Nduga yang memiliki tantangan geografis dan akses menuju sejumlah wilayah yang relatif sulit.
“Pemerintah daerah perlu mengantisipasi dampak kekeringan terhadap ketersediaan air dan pangan melalui pemantauan sumber air, kondisi lahan pertanian, serta kelompok masyarakat yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi, terutama masyarakat di wilayah pegunungan dengan akses yang sulit dijangkau,” kata Berton.
Mitigasi Dini untuk Cegah Dampak Meluas
BNPB menekankan bahwa penanganan kekeringan membutuhkan kesiapsiagaan dan koordinasi antara masyarakat, pemerintah daerah, serta petugas di lapangan.
Pendataan warga terdampak menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan kelompok yang paling membutuhkan dapat segera mendapatkan bantuan. Di sisi lain, pemantauan sumber air dan kondisi pertanian diperlukan untuk mengetahui perkembangan dampak kekeringan.
Langkah mitigasi juga perlu berjalan beriringan dengan upaya mencegah bencana ikutan, terutama karhutla yang risikonya meningkat ketika kondisi vegetasi dan lahan mengering.
BNPB bersama pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan situasi di wilayah terdampak serta memperkuat langkah pencegahan dan kesiapsiagaan bencana.
Bagi masyarakat, kewaspadaan menjadi kunci. Penghematan air, tidak menggunakan api untuk membuka lahan, serta segera melaporkan titik api dapat membantu mengurangi risiko dampak kekeringan berkembang menjadi bencana yang lebih luas.
Dengan 1.156 KK terancam kerawanan pangan dan 2.325 hektare lahan pertanian mengalami gagal panen, penanganan kekeringan di Nduga membutuhkan respons cepat dan terukur, terutama untuk memastikan kebutuhan pangan dan air bersih warga tetap terpenuhi. (*)






