Bali Dinilai Makin Mahal, Ini Destinasi Indonesia yang Dilirik Wisatawan pada 2027

Bagikan

Bali Dinilai Makin Mahal, Ini Destinasi Indonesia yang Dilirik Wisatawan pada 2027
Ilustrasi salah satu destinasi wisata di Bali. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Tren pariwisata dunia diperkirakan mengalami perubahan pada 2027. Wisatawan tidak lagi hanya mengejar destinasi populer, tetapi juga semakin tertarik menjelajahi tempat-tempat yang menawarkan pengalaman autentik, suasana lebih tenang, dan biaya perjalanan yang terjangkau.

Prediksi tersebut menjadi sorotan dalam laporan tren wisata terbaru Euronews Travel yang dirilis pada akhir September 2026. Dalam ulasannya, media perjalanan Eropa itu secara khusus mengangkat Indonesia melalui tema “Indonesia, so much more than Bali”, yang menyoroti potensi destinasi wisata di luar Pulau Dewata.

Euronews Travel menilai popularitas Bali menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kenaikan harga hingga kritik terhadap pembangunan pariwisata yang dinilai berdampak pada bisnis lokal. Situasi tersebut menjadi salah satu alasan wisatawan dapat mempertimbangkan destinasi alternatif di Indonesia.

“Banyak pelancong merasa tidak senang lantaran para pengembang merobohkan bisnis lokal yang telah lama berdiri,” tulis salah satu penulis Euronews Travel dalam ulasannya.

Selain persoalan pembangunan, kenaikan harga akomodasi dan makanan di Bali juga menjadi perhatian. Menurut laporan tersebut, dalam sejumlah kasus, biaya yang harus dikeluarkan wisatawan di Bali bahkan dapat menyaingi biaya perjalanan di Eropa.

Penilaian itu tidak berarti Bali kehilangan daya tarik secara keseluruhan. Namun, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman wisata, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan lingkungan serta kehidupan masyarakat lokal semakin relevan dalam persaingan destinasi global.

Lombok hingga Raja Ampat Jadi Pilihan Wisata 2027

Sebagai alternatif Bali, Euronews Travel merekomendasikan sejumlah destinasi lain di Indonesia yang memiliki karakter dan pengalaman berbeda. Indonesia dinilai mempunyai kekayaan alam dan budaya yang dapat menarik wisatawan dengan beragam minat perjalanan.

Salah satu destinasi yang disorot adalah Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pulau ini menawarkan pantai-pantai yang relatif alami, air terjun, serta pengalaman mendaki Gunung Rinjani bagi wisatawan yang menyukai petualangan.

Lombok juga dapat menjadi alternatif bagi pelancong yang ingin menikmati wisata bahari dengan suasana berbeda. Meski demikian, biaya perjalanan tetap bergantung pada musim kunjungan, pilihan akomodasi, transportasi, dan aktivitas yang dilakukan.

Destinasi berikutnya adalah Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Kawasan yang termasuk dalam Situs Warisan Dunia UNESCO ini dikenal dengan bentang alam kepulauan, habitat komodo, serta daya tarik wisata bahari.

Wisatawan dapat menjelajahi lanskap pulau-pulau, menikmati pemandangan perbukitan, dan mengenal kekayaan ekosistem laut di kawasan tersebut. Pengelolaan kunjungan yang bertanggung jawab menjadi penting untuk menjaga kelestarian alam dan habitat satwa yang dilindungi.

Euronews Travel juga menyoroti Raja Ampat di Papua Barat Daya sebagai pilihan bagi wisatawan yang mencari pengalaman lebih terpencil. Kepulauan ini dikenal memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi, terumbu karang, pantai berpasir putih, serta perairan jernih.

Dalam ulasannya, Euronews menggambarkan Raja Ampat sebagai wilayah yang terdiri atas ratusan pulau dengan hutan lebat dan pemandangan laut yang memikat. Akses menuju sejumlah kawasan membutuhkan perencanaan perjalanan yang matang, termasuk pengaturan transportasi laut dan akomodasi.

Karakter Raja Ampat yang relatif terpencil juga membuat wisatawan perlu memperhitungkan biaya logistik. Karena itu, meskipun destinasi ini menawarkan pengalaman alam yang istimewa, biaya perjalanan tidak selalu lebih murah dibandingkan destinasi populer lainnya.

Rekomendasi Lombok, Taman Nasional Komodo, dan Raja Ampat memperlihatkan luasnya pilihan wisata Indonesia. Ketiganya menawarkan pengalaman berbeda, mulai dari wisata pantai dan pendakian hingga petualangan alam dan eksplorasi bawah laut.

Wisatawan Diprediksi Beralih ke Kota-Kota Kecil

Perubahan tren wisata 2027 tidak hanya berkaitan dengan destinasi di Indonesia. Euronews Travel juga memperkirakan kota-kota kecil yang belum banyak dikenal akan semakin menarik perhatian wisatawan.

Media sosial menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan tersebut. Informasi mengenai tempat-tempat yang sebelumnya kurang populer dapat menyebar dengan cepat melalui foto, video, dan pengalaman perjalanan yang dibagikan pengguna.

Jika pada 2026 wisatawan semakin melirik kota-kota alternatif di luar pusat wisata utama, kecenderungan tersebut diperkirakan berlanjut pada 2027. Wisatawan disebut semakin tertarik menemukan tempat yang belum terlalu ramai dan menawarkan pengalaman berbeda dari destinasi arus utama.

Baca Juga :  Masjid Al Irsyad Jadi Ikon Wisata Religi di KBB

Laporan tersebut turut mengutip jajak pendapat Skift yang menyebut 42 persen pelancong menghindari tempat-tempat yang terlalu ramai. Sebagai gantinya, mereka mencari destinasi yang menawarkan suasana lebih santai dan tenang.

Angka tersebut memperlihatkan adanya minat terhadap perjalanan yang tidak semata-mata berorientasi pada popularitas sebuah tempat. Meski demikian, persentase tersebut perlu dipahami sesuai cakupan dan metode survei yang digunakan, bukan sebagai gambaran otomatis seluruh wisatawan dunia.

Bagi destinasi yang belum banyak dikenal, kecenderungan ini dapat menjadi peluang untuk mengembangkan pariwisata berbasis potensi lokal. Kuliner khas, tradisi masyarakat, lanskap alam, hingga kegiatan sehari-hari penduduk dapat menjadi daya tarik yang membedakan satu destinasi dari destinasi lainnya.

Namun, meningkatnya popularitas melalui media sosial juga perlu diantisipasi. Tanpa perencanaan yang baik, destinasi yang awalnya tenang berisiko menghadapi persoalan serupa dengan tempat wisata populer, seperti kepadatan pengunjung, tekanan terhadap lingkungan, dan kenaikan harga.

Staycation Diprediksi Kalah dari Pengalaman Menginap Autentik

Tren lain yang diperkirakan berubah pada 2027 adalah pilihan akomodasi. Setelah staycation menjadi salah satu cara populer untuk berlibur tanpa melakukan perjalanan jauh, wisatawan diperkirakan semakin mencari penginapan yang memberikan pengalaman khas dan berbeda.

Euronews Travel mengutip penelitian yang menyebut 74 persen responden setuju bahwa banyak hotel terasa sangat mirip satu sama lain. Temuan ini menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai meningkatnya minat terhadap pengalaman menginap yang lebih autentik.

Wisatawan tidak lagi hanya mempertimbangkan fasilitas mewah atau desain hotel yang menarik. Pengalaman yang berkaitan dengan karakter lokal, interaksi dengan masyarakat, suasana alam, serta keunikan tempat menginap juga dapat menjadi pertimbangan.

Penginapan yang mengangkat arsitektur lokal, menyajikan makanan khas daerah, atau memberikan kesempatan bagi tamu untuk mengenal tradisi masyarakat setempat berpotensi menawarkan pengalaman yang lebih berkesan.

Meski demikian, prediksi penurunan tren staycation tidak berarti aktivitas tersebut akan menghilang. Staycation masih dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang membutuhkan perjalanan singkat, terutama di tengah keterbatasan waktu dan anggaran.

Perubahan yang lebih mungkin terlihat adalah semakin beragamnya preferensi wisatawan. Sebagian tetap memilih hotel dengan fasilitas lengkap, sementara lainnya mencari penginapan unik yang menawarkan kedekatan dengan alam dan kehidupan masyarakat setempat.

Peluang bagi Pariwisata Indonesia

Prediksi tren wisata 2027 membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas promosi pariwisata di luar Bali. Lombok, Taman Nasional Komodo, Raja Ampat, dan kota-kota kecil berpotensi menjangkau wisatawan yang menginginkan pengalaman lebih beragam.

Namun, peluang tersebut perlu diimbangi dengan kesiapan destinasi. Konektivitas transportasi, ketersediaan akomodasi, kualitas layanan, kebersihan, keamanan, dan perlindungan lingkungan menjadi faktor penting dalam membangun pengalaman wisata yang berkelanjutan.

Pemerataan manfaat ekonomi juga perlu diperhatikan agar pertumbuhan kunjungan tidak hanya menguntungkan pelaku usaha besar. Keterlibatan masyarakat lokal, pelaku UMKM, pengelola wisata, dan komunitas budaya dapat membantu memastikan pariwisata memberikan manfaat lebih luas.

Bagi wisatawan, perubahan tren ini menjadi kesempatan untuk merencanakan perjalanan dengan lebih terbuka. Indonesia menawarkan pilihan mulai dari pantai dan gunung di Lombok, lanskap kepulauan Taman Nasional Komodo, hingga kekayaan bawah laut Raja Ampat.

Pada akhirnya, tren wisata 2027 bukan semata-mata tentang destinasi mana yang sedang populer. Perubahan tersebut juga mencerminkan keinginan sebagian pelancong untuk mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna, suasana yang lebih tenang, serta hubungan yang lebih dekat dengan karakter lokal suatu tempat.

Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan bahwa daya tarik destinasi alternatif tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi berkembang menjadi pariwisata yang berkualitas, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait