BGN Ancam Tutup 71 Dapur MBG Jika Tak Beli Telur Langsung dari Peternak Lokal

Bagikan

BGN Ancam Tutup 71 Dapur MBG Jika Tak Beli Telur Langsung dari Peternak Lokal
Badan Gizi Nasional (BGN) mewajibkan seluruh dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membeli telur langsung dari peternak lokal guna meningkatkan serapan produksi dan memperbaiki harga telur di tingkat peternak. (Foto: Istimewa)

Magetan, Nusantara Info: Badan Gizi Nasional (BGN) mempertegas pengawasan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mewajibkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG membeli telur langsung dari peternak lokal. BGN bahkan mengancam menjatuhkan sanksi penghentian sementara operasional bagi dapur yang tidak mematuhi ketentuan tersebut.

Langkah tegas itu diambil setelah BGN menerima laporan bahwa kenaikan harga telur di tingkat konsumen tidak diikuti peningkatan harga di tingkat peternak. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih adanya mata rantai distribusi yang menyebabkan manfaat ekonomi program MBG belum sepenuhnya dirasakan oleh peternak.

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan pihaknya telah berulang kali mengingatkan agar seluruh SPPG menyerap telur langsung dari peternak tanpa melalui perantara.

“Barusan saya dapat laporan dari para peternak bahwa harga di tingkat retail naik, tapi di tingkat peternakan tidak naik,” katanya saat menghadiri kegiatan Sinergi Ekonomi Kerakyatan Strategi Pemberdayaan Peternak dan Usaha Mikro dalam Mendukung Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Senin (1/6/2026).

Menurut Nanik, salah satu tujuan utama MBG bukan hanya menyediakan makanan bergizi bagi penerima manfaat, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal. Karena itu, keterlibatan peternak dan pelaku usaha daerah menjadi bagian penting dalam ekosistem program tersebut.

BGN Beri Tenggat Satu Pekan

BGN menginstruksikan seluruh SPPG, khususnya di Kabupaten Magetan, untuk segera membeli telur langsung dari peternak setempat. Jika instruksi tersebut tidak dijalankan, BGN siap menjatuhkan sanksi administratif berupa penghentian sementara operasional dapur.

“Hari ini saya instruksikan ulang, seluruh SPPG khususnya di Magetan membeli langsung ke peternak. Kalau tidak membeli langsung ke peternak, dapurnya saya suspensi,” tegas Nanik.

Tak hanya itu, BGN juga memberikan tenggat waktu satu pekan untuk melihat dampak kebijakan tersebut terhadap harga telur di tingkat peternak. Apabila tidak terjadi perbaikan harga dan serapan produksi lokal masih rendah, BGN mengancam menutup sementara puluhan dapur MBG di wilayah tersebut.

“Saya hitung satu minggu dari ini harus ada pergerakan harga. Kalau tidak ada pergerakan harga, 71 SPPG saya tutup. Harus memakai telur dari Magetan dan beli dari petani,” ujarnya.

BGN juga meminta koperasi, mitra penyedia bahan pangan, dan pengelola dapur MBG melakukan intervensi pasar dengan meningkatkan penyerapan telur dari peternak lokal guna menjaga stabilitas harga di tingkat kandang.

Baca Juga :  Dari Paris, Prabowo Instruksikan Bahasa Prancis Masuk Sekolah di Seluruh Indonesia

Wajib Libatkan Minimal 15 Pemasok Lokal

Selain kewajiban membeli langsung dari peternak, BGN mengingatkan bahwa setiap SPPG wajib melibatkan sedikitnya 15 pemasok lokal sesuai petunjuk teknis program MBG.

Ketentuan tersebut dirancang untuk memastikan manfaat ekonomi program tidak terpusat pada segelintir pihak, melainkan tersebar kepada lebih banyak pelaku usaha mikro, petani, peternak, dan pemasok pangan daerah.

“Kalau ketahuan tidak memakai 15 supplier, maka kita suspend dapurnya karena tujuan program ini adalah meningkatkan ekonomi rakyat,” terang Nanik.

Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menciptakan efek berganda (multiplier effect) melalui program MBG yang kini menjadi salah satu program prioritas nasional.

Peternak Keluhkan Serapan Telur Masih Rendah

Di sisi lain, para peternak ayam petelur di Magetan mengaku belum merasakan dampak signifikan dari keberadaan dapur MBG. Mereka menilai sebagian besar SPPG hanya membeli telur dalam jumlah kecil sehingga belum mampu mengangkat harga di tingkat peternak.

Salah satu peternak ayam petelur di Magetan, Teguh, mengatakan kebutuhan telur satu dapur MBG diperkirakan mencapai sekitar 1,5 kuintal per hari. Namun dalam praktiknya, sebagian dapur hanya membeli satu hingga dua kotak telur atau sekitar 15–30 kilogram.

“MBG itu seharusnya memerlukan sekitar satu setengah kuintal. Tapi yang diambil hanya satu kotak 15 kilogram atau dua kotak 30 kilogram,” pungkasnya.

Akibat rendahnya penyerapan tersebut, stok telur di kandang masih menumpuk. Pada saat yang sama, harga telur di tingkat peternak masih berada jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram.

Saat ini, harga telur di tingkat peternak Magetan berada di kisaran Rp22.800 per kilogram, bahkan sebagian peternak masih menjual pada harga sekitar Rp21.000 per kilogram. Kondisi itu semakin membebani peternak karena harga pakan ternak terus mengalami kenaikan.

Para peternak berharap instruksi tegas BGN dapat segera dijalankan seluruh SPPG sehingga program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga benar-benar menjadi penggerak ekonomi lokal dan memperbaiki kesejahteraan peternak. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait