Kabut Asap dari Indonesia Kepung Singapura, PSI Tembus 173 dan Masuk Kategori Tidak Sehat

Bagikan

Kabut Asap dari Indonesia Kepung Singapura, PSI Tembus 173 dan Masuk Kategori Tidak Sehat
Pada Jumat (9/10/2026) pukul 10.00 waktu setempat, indeks kualitas udara (PSI) 24 jam di pusat Singapura mencapai 173 atau masuk kategori tidak sehat. (Foto: Istimewa)

SINGAPURA, NUSANTARA INFO: Kualitas udara di Singapura memburuk akibat kepungan kabut asap yang bergerak dari sejumlah wilayah di Indonesia. Indeks Standar Polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam di pusat Singapura mencapai 173 pada Jumat (9/10/2026) pukul 10.00 waktu setempat, menjadi angka tertinggi pada musim kabut asap saat ini.

Dikutip dari Channel NewsAsia (CNA), pembacaan PSI di sejumlah wilayah lain di Singapura juga berada dalam rentang tidak sehat, yakni 117 hingga 166. Kondisi tersebut mendorong otoritas setempat mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai dampak pencemaran udara terhadap kesehatan.

Badan Lingkungan Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) menyarankan masyarakat memantau kadar partikel halus PM2.5 setiap jam, terutama sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.

Peringatan ini penting karena paparan partikel halus dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, perempuan hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru kronis.

PSI Singapura Tembus 173, Warga Diminta Batasi Aktivitas Luar Ruangan

Dalam sistem pemantauan kualitas udara Singapura, PSI 24 jam dikategorikan tidak sehat ketika berada pada rentang 101–200. Adapun kategori sangat tidak sehat berlaku pada rentang 201–300, sedangkan angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Dengan PSI mencapai 173, kualitas udara di pusat Singapura telah berada dalam kategori tidak sehat. Kondisi ini memerlukan kewaspadaan, terutama bagi masyarakat yang berencana berolahraga, bekerja, atau melakukan kegiatan dalam waktu lama di luar ruangan.

NEA menyarankan masyarakat memperhatikan pembacaan PM2.5 selama satu jam untuk menentukan langkah pencegahan yang sesuai.

Ketika konsentrasi PM2.5 satu jam meningkat, orang sehat disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan yang berat selama satu jam berikutnya. Sementara itu, lansia, perempuan hamil, anak-anak, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru kronis dianjurkan menghindari aktivitas berat di luar ruangan.

PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil, dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan mencapai bagian paru-paru.

Paparan PM2.5 dapat memicu iritasi saluran pernapasan serta memperburuk kondisi kesehatan tertentu. Risiko dapat meningkat ketika konsentrasi polutan tinggi dan paparan berlangsung dalam waktu lama.

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan informasi kualitas udara terbaru, menyesuaikan kegiatan luar ruangan, dan mengikuti rekomendasi otoritas kesehatan setempat.

Asap dari Sumatera dan Kalimantan Barat Bergerak ke Singapura

NEA menjelaskan bahwa kabut asap yang menyelimuti Singapura berkaitan dengan pergerakan asap dari wilayah Indonesia.

Baca Juga :  Wamendagri Ribka Sebut Program Makan Bergizi Gratis Akan Perkuat SDM di Papua

Dalam pengumuman pada Kamis (8/10/2026) malam, NEA menyebut kepulan asap dengan intensitas sedang hingga tebal terpantau berasal dari Sumatera bagian selatan dan tengah serta Kalimantan Barat.

Asap tersebut bergerak menuju Singapura seiring kondisi angin yang bertiup dari arah tenggara atau selatan. Situasi ini berpotensi mempertahankan kondisi kabut asap di Negeri Singa selama arah dan pola angin masih mendukung pergerakan asap ke wilayah tersebut.

NEA memperkirakan PSI 24 jam Singapura berada dalam rentang sedang hingga agak tidak sehat berdasarkan kondisi yang dipantau saat pengumuman tersebut dikeluarkan.

Namun, perkembangan kualitas udara dapat berubah mengikuti kondisi cuaca, arah angin, intensitas sumber asap, dan penyebaran polutan. Oleh sebab itu, angka PSI pada waktu tertentu tidak selalu menggambarkan kondisi sepanjang hari.

Informasi mengenai asal asap tersebut menunjukkan keterkaitan lintas batas dalam persoalan pencemaran udara di kawasan Asia Tenggara. Meski demikian, penentuan sumber kebakaran secara spesifik memerlukan data pemantauan titik panas, kondisi kebakaran, serta analisis atmosfer yang terverifikasi.

Apa yang Perlu Dilakukan Saat Kabut Asap Memburuk?

Ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat, masyarakat perlu mengurangi paparan polusi, terutama jika termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap gangguan pernapasan.

Sejumlah langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:

  • Memeriksa PSI dan pembacaan PM2.5 terbaru sebelum beraktivitas di luar ruangan.
  • Mengurangi olahraga atau pekerjaan fisik berat di luar ruangan ketika kadar polutan meningkat.
  • Menghindari aktivitas luar ruangan yang berat bagi anak-anak, lansia, perempuan hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru kronis.
  • Mengurangi masuknya udara luar yang tercemar ke dalam ruangan dan menggunakan penyaring udara jika tersedia.
  • Segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, atau gejala serius lainnya.

Masyarakat juga perlu membedakan PSI 24 jam dan pembacaan PM2.5 satu jam. PSI 24 jam menggambarkan tingkat pencemaran berdasarkan periode rata-rata yang lebih panjang, sedangkan pemantauan PM2.5 satu jam membantu melihat perubahan konsentrasi partikel dalam waktu lebih singkat.

Dengan PSI 173 di pusat kota pada Jumat pagi, kabut asap kembali menjadi perhatian di Singapura. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan pergerakan asap dari wilayah sumber.

Masyarakat yang berada di Singapura maupun yang berencana bepergian ke negara tersebut disarankan memantau pembaruan resmi NEA untuk memperoleh informasi kualitas udara dan rekomendasi kesehatan terkini. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait