Di Tengah Gencatan Senjata, Israel Bombardir Wilayah Lebanon: 254 Orang Tewas

Bagikan

Di Tengah Gencatan Senjata, Israel Bombardir Wilayah Lebanon: 254 Orang Tewas
Di tengah gencatan senjata, Israel bombardir Lebonon dan menewaskan 254 orang. (Foto: REUTERS)

Jakarta, Nusantara Info: Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Israel ke wilayah Lebanon menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 1.165 lainnya pada Rabu (8/4/2026). Serangan ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan, terutama karena terjadi hanya beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Serangan tersebut menghantam sejumlah wilayah strategis di Beirut dan sekitarnya, termasuk kawasan permukiman padat. Menurut militer Israel, operasi ini merupakan serangan terkoordinasi terbesar sejak dimulainya kampanye militer terbaru di Lebanon pada 2 Maret lalu.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa target utama serangan adalah infrastruktur dan pusat komando Hizbullah yang tersebar di berbagai wilayah Lebanon.

“Militer Israel melakukan serangan mendadak terhadap ratusan teroris Hizbullah di pusat-pusat komando di seluruh Lebanon. Ini adalah pukulan terbesar yang diderita Hizbullah sejak Operasi Beepers,” ujar Katz, seperti dikutip Al Jazeera.

Meski demikian, pihak militer Israel mengakui bahwa sebagian besar target berada di area yang berdekatan dengan pemukiman sipil. Mereka mengeklaim telah mengambil langkah-langkah untuk meminimalkan korban di kalangan warga yang tidak terlibat.

Di sisi lain, otoritas Lebanon melaporkan dampak kemanusiaan yang sangat serius. Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyebut negaranya tengah menghadapi krisis darurat akibat intensitas serangan yang tinggi.

“Ambulans masih terus mengangkut korban ke rumah sakit. Kami mendesak organisasi internasional untuk segera membantu sektor kesehatan Lebanon,” ujarnya.

Menurut laporan awal, sekitar 100 serangan udara dilancarkan dalam waktu singkat, menyebabkan rumah sakit kewalahan menangani korban luka yang terus berdatangan. Infrastruktur sipil di sejumlah wilayah juga dilaporkan mengalami kerusakan signifikan.

Kelompok Hizbullah mengecam keras serangan tersebut dan menuduh Israel secara langsung menargetkan wilayah sipil, termasuk di pinggiran selatan Beirut, Sidon, Lebanon selatan, hingga Lembah Bekaa.

Baca Juga :  Prabowo Tegaskan Siap Keluar dari BoP Jika Tak Menguntungkan Indonesia dan Palestina

Kecaman serupa datang dari pejabat tinggi Lebanon. Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional.

“Ini adalah kejahatan perang sepenuhnya,” tegasnya.

Serangan ini memperumit situasi geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya sempat mereda setelah pengumuman gencatan senjata. Alih-alih meredakan ketegangan, aksi militer terbaru ini justru berpotensi memperluas konflik dan memicu respons lanjutan dari berbagai pihak di kawasan.

Pengamat menilai, eskalasi ini dapat berdampak tidak hanya pada stabilitas Lebanon, tetapi juga pada dinamika keamanan regional secara keseluruhan. Hingga kini, komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi dan mendesak semua pihak untuk menahan diri guna mencegah konflik yang lebih luas.

Sementara itu, upaya evakuasi dan penanganan korban masih terus berlangsung di sejumlah wilayah terdampak, di tengah keterbatasan fasilitas dan tekanan yang semakin besar terhadap sistem kesehatan Lebanon. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait