Konflik Gaza Terlupakan di Tengah Perang Iran, Gencatan Senjata Mandek dan Masa Depan Kian Suram

Bagikan

Konflik Gaza Terlupakan di Tengah Perang Iran, Gencatan Senjata Mandek dan Masa Depan Kian Suram
Warga berjalan di antara puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan di Jalur Gaza, mencerminkan kerusakan luas dan memburuknya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut di tengah gencatan senjata yang rapuh. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Nusantara Info: Konflik berkepanjangan di Jalur Gaza kian tersisih dari sorotan internasional seiring meningkatnya ketegangan akibat perang Iran. Meski gencatan senjata telah berlangsung lebih dari enam bulan, upaya menuju penyelesaian permanen justru menunjukkan stagnasi, dengan negosiasi yang berjalan tanpa kemajuan signifikan.

Upaya diplomasi terbaru kembali dilakukan ketika delegasi Hamas bertolak ke Kairo, Mesir, pada Minggu (13/4/2026) untuk melanjutkan pembicaraan dengan mediator terkait kelanjutan gencatan senjata dengan Israel. Agenda utama pertemuan tersebut mencakup penyelesaian poin-poin krusial dari fase pertama kesepakatan, serta kemungkinan melanjutkan ke fase berikutnya.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses tersebut masih jauh dari kata berhasil. Gencatan senjata yang mulai berlaku sejak Oktober 2025 hanya mampu meredam konflik secara terbatas, dan kerap terganggu oleh serangan sporadis. Sejumlah analis menilai hasilnya belum memenuhi harapan.

Dalam analisis terbaru Norwegian Refugee Council, disebutkan bahwa “janji yang penuh harapan ini sebagian besar belum terpenuhi,” menegaskan minimnya perkembangan menuju stabilitas jangka panjang.

Negosiasi Berputar di Tempat
Upaya mediasi internasional sejauh ini dinilai belum efektif. Salah satu inisiatif yang disorot adalah pembentukan “Dewan Perdamaian” oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Meski diluncurkan dengan ambisi besar dan dukungan pendanaan miliaran dolar, implementasinya berjalan lambat dan belum menunjukkan dampak nyata.

Pakar Timur Tengah dari Stiftung Wissenschaft und Politik (SWP), Peter Lintl, menggambarkan situasi saat ini sebagai stagnan. “Saat ini semuanya tampak berputar, tetapi hanya di tempat,” ujarnya. Isu-isu mendasar seperti pelucutan senjata Hamas, masa depan pemerintahan Gaza, serta penarikan pasukan Israel belum menemukan titik temu.

Pandangan serupa disampaikan Simon Wolfgang Fuchs dari Universitas Ibrani Yerusalem. Ia menilai dinamika negosiasi lebih didominasi ketidakpercayaan dibandingkan upaya kompromi, sehingga tenggat waktu yang ditetapkan terus terlewati tanpa hasil konkret.

Pelucutan Senjata Jadi Batu Sandungan
Salah satu titik paling krusial dalam negosiasi adalah soal pelucutan senjata Hamas. Perbedaan posisi kedua pihak menjadi penghambat utama. Israel menuntut demiliterisasi Hamas sebagai langkah awal, sementara Hamas menginginkan penarikan pasukan Israel terlebih dahulu.

Rencana untuk melibatkan pengamat internasional dalam proses demiliterisasi sempat mencuat pada awal 2026, namun implementasinya membutuhkan kesepakatan politik yang hingga kini belum tercapai.

Baca Juga :  Empat Pilar Jadi Fokus Percepatan Pembangunan Kabupaten Mappi 2026–2030

Di sisi lain, meski mengalami tekanan militer, Hamas masih memiliki struktur organisasi yang utuh dan tetap menjadi otoritas de facto di sebagian wilayah Gaza. Hal ini semakin memperumit upaya mencari solusi politik yang berkelanjutan.

Tekanan Militer dan Krisis Pendanaan
Situasi keamanan di Gaza juga masih rapuh. Operasi militer Israel yang menyasar pimpinan Hamas terus berlangsung, namun sering kali menimbulkan korban sipil, memperburuk kondisi kemanusiaan sekaligus memperkecil peluang tercapainya perdamaian.

Laporan Oxfam menyebutkan bahwa rencana gencatan senjata yang diusulkan Amerika Serikat berada di ambang kegagalan. Sejumlah elemen penting, termasuk pembentukan badan teknokrat untuk mengelola administrasi sipil Gaza, belum terealisasi.

Masalah lain muncul dari sisi pendanaan rekonstruksi. Negara-negara Teluk yang diharapkan menjadi penyandang dana utama kini menghadapi tekanan ekonomi akibat dampak perang Iran. Kerusakan fasilitas energi di kawasan tersebut turut menghambat kemampuan mereka untuk memberikan dukungan finansial.

Krisis Kemanusiaan Memburuk
Di tengah kebuntuan politik dan tekanan militer, warga sipil Gaza menjadi pihak yang paling terdampak. Krisis kemanusiaan masih berlangsung, dengan keterbatasan pasokan, kenaikan harga kebutuhan pokok, serta infrastruktur yang hancur.

Simon Fuchs menggambarkan kondisi ini sebagai “spiral ke bawah”, di mana situasi terus memburuk tanpa tanda pemulihan yang jelas. Trauma akibat kelaparan yang terjadi pada 2025 juga masih membekas di kalangan warga.

Selain itu, ruang kebebasan sipil di Gaza dilaporkan semakin terbatas, sehingga sulit mendapatkan gambaran utuh mengenai kondisi internal. Kekhawatiran akan pengusiran permanen oleh Israel juga terus menghantui warga Palestina.

Terobosan Masih Jauh
Sejumlah analis menilai peluang terobosan dalam waktu dekat sangat kecil. Tingginya biaya politik bagi kedua pihak serta kompleksitas masalah struktural membuat kompromi sulit tercapai.

Meski gencatan senjata memberikan sedikit ruang bernapas, kondisi di Gaza saat ini berada dalam situasi yang rapuh—bukan perang terbuka, tetapi juga jauh dari damai. Situasi ini dinilai berbahaya karena potensi eskalasi dapat terjadi kapan saja.

Dengan perhatian dunia yang terpecah akibat konflik lain, terutama perang Iran, masa depan Gaza kini berada di persimpangan yang semakin tidak pasti. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait