
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Rencana penyesuaian tarif transportasi umum di Jakarta mulai 2027 mendatang mendapat perhatian dari pengguna Transjakarta. Sejumlah penumpang berharap kenaikan tarif tidak terlalu tinggi agar transportasi publik tetap terjangkau, terutama bagi pekerja komuter dan pelajar.
Tarif dasar Transjakarta saat ini masih sebesar Rp3.500. Besaran tersebut telah bertahan selama lebih dari dua dekade sejak layanan bus Transjakarta beroperasi.
Bagi sebagian pengguna, tarif Rp3.500 dinilai masih menjadi salah satu alasan utama memilih Transjakarta dibandingkan moda transportasi lainnya.
Dika, penumpang asal Pondok Gede, Bekasi, yang kerap menggunakan Transjakarta dari Halte Pinang Ranti menuju Jakarta, mengaku keberatan apabila penyesuaian tarif nantinya terlalu tinggi.
“Kalau bisa sih jangan naik ya. Udah Rp3.500 saja, kalau bisa. Tapi kalau memang toh naik, ya jangan mahal-mahal, biar kita bisa tetap pakai transportasi umum, terjangkau,” ujar Dika saat ditemui di Halte Bundaran HI, Minggu (4/10/2026).
Menurut Dika, jika kenaikan tarif tidak dapat dihindari, angka yang ideal berada di bawah Rp5.000. Ia menilai kenaikan secara bertahap akan lebih mudah diterima pengguna.
“Misal sekarang Rp3.500, ya di bawah Rp5.000 lah kalau bisa. Mungkin jadi Rp4.000, naik Rp500, mentok pokoknya di Rp5.000 kalau bisa. Kalau di atasnya, keberatan sih jujur saja,” katanya.
Tarif Naik, Layanan Diminta Ikut Ditingkatkan
Dika tidak hanya mempersoalkan besaran tarif. Menurutnya, apabila pemerintah akhirnya memutuskan menaikkan tarif, kualitas layanan Transjakarta juga harus ditingkatkan.
Salah satu persoalan yang disorot adalah kepadatan penumpang pada jam sibuk. Menurut dia, keterbatasan armada pada waktu berangkat dan pulang kerja membuat penumpang harus berdesakan dan tidak jarang berdiri sepanjang perjalanan.
“Ya pokoknya fasilitasnya diperbaiki lagi, keamanannya, kenyamanannya. Apalagi di jam-jam pulang kerja, berangkat kerja, udah itu enggak bisa duduk. Pasti berdiri, penuh, dan lama datangnya, kalau (tarif) naik harus ada perbaikan,” ujarnya.
Meski demikian, Dika tetap mengapresiasi perkembangan layanan Transjakarta, khususnya perluasan jangkauan hingga wilayah penyangga Jakarta.
Menurutnya, akses transportasi yang semakin luas ke kawasan seperti Bekasi dan Bogor memberikan pilihan perjalanan yang lebih praktis bagi masyarakat.
“Semoga bisa lebih baik lagi, bisa ngasih fasilitas yang lebih baik lagi, lebih banyak lagi deh titik-titiknya. Soalnya sekarang ke Bekasi, Bogor kan sudah bisa ya, sudah enak, tinggal lebih baik aja,” katanya.
Pelajar Khawatir Beban Uang Saku Bertambah
Kekhawatiran terhadap kenaikan tarif juga datang dari kelompok pelajar.
Alif, 16 tahun, pelajar asal Senen, Jakarta Pusat, mengaku mengetahui wacana penyesuaian tarif Transjakarta melalui media sosial. Ia mengatakan tarif Rp3.500 masih relatif terjangkau untuk perjalanan pulang-pergi sekolah.
Alif setiap hari mengandalkan Transjakarta untuk perjalanan dari kawasan Lapangan Banteng menuju Kramat Sentiong.
Ia berharap pemerintah tidak menetapkan tarif baru terlalu tinggi, terutama karena kemampuan ekonomi pelajar sangat bergantung pada uang saku harian.
“Sebenarnya Rp3.500 tuh masih terbilang murah. Jadi paling maksimal sih buat saya sebagai anak sekolah ya Rp5.000 lah. Tapi kalau misalnya saya pulang-pergi ada Rp10.000, ceban (sepuluh ribu rupiah) juga sudah lumayan juga menurut saya,” ujar Alif.
Menurut dia, penyesuaian tarif juga harus diikuti pemerataan kualitas fasilitas. Ia menyoroti kondisi sejumlah infrastruktur pendukung transportasi, termasuk Jembatan Penyeberangan Orang (JPO), yang dinilai masih membutuhkan perawatan.
“Saya sih sayangnya di sini (Bundaran HI) halte pada bagus-bagus, tapi masih banyak juga yang jelek, enggak terawat JPO-nya, kalau harganya naik, harus diperbaiki lah,” katanya.
Alif bahkan mengaku akan mempertimbangkan moda transportasi lain jika tarif Transjakarta meningkat terlalu tinggi.
“Kalau naiknya di atas Rp5.000 kayaknya saya mending jalan kaki deh, biasanya kan saya paling cuma dua halte. Atau enggak sekalian aja naik ojek online, enggak kena macet,” ujarnya.
Ia juga meminta adanya penambahan armada untuk mengurangi kepadatan penumpang, khususnya pada jam pulang sekolah dan jam sibuk.
“Fasilitasnya juga harusnya lebih bagus lah. Masa saya (bayar) Rp7.000, saya pulang sore masa sumpek-sumpekan? Ya enggak mau lah,” tuturnya.
Pemprov DKI Masih Hitung Besaran Subsidi
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan akan melakukan penyesuaian tarif transportasi umum mulai 2027. Kebijakan tersebut mencakup Transjakarta dan sejumlah moda transportasi lain yang berada dalam sistem transportasi Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan penentuan tarif harus mempertimbangkan besaran subsidi yang diberikan pemerintah daerah. Perhitungan tersebut diperlukan agar subsidi transportasi tetap dapat diberikan tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap APBD.
“Untuk memutuskan kenaikan Transjakarta dan semuanya, termasuk Transjabodetabek, tentunya kami harus melihat bagaimana dengan subsidi yang harus dihitung dan dilakukan untuk itu,” kata Pramono.
Artinya, sampai saat ini besaran tarif baru Transjakarta belum ditetapkan secara resmi.
Selain Transjakarta dan Transjabodetabek, penyesuaian tarif juga akan menyasar moda transportasi umum lainnya.
Untuk LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai, Pramono sebelumnya menyampaikan rencana tarif flat sebesar Rp5.000.
“Termasuk kemudian nantinya adalah untuk LRT yang dari Kelapa Gading sampai dengan Manggarai ini yang kita tetapkan flat Rp5.000,” ujarnya.
DTKJ Usulkan Tarif Transjakarta Rp5.000
Dalam pembahasan mengenai penyesuaian tarif, Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) telah memberikan rekomendasi besaran tarif untuk sejumlah moda transportasi.
Salah satu rekomendasinya adalah tarif Transjakarta menjadi Rp5.000, sedangkan tarif Transjabodetabek diusulkan sebesar Rp10.000.
Namun, rekomendasi tersebut belum menjadi keputusan final pemerintah daerah.
Ketika ditanya apakah besaran tarif baru akan mengikuti rekomendasi DTKJ, Pramono belum memberikan angka pasti. Pemerintah masih melakukan perhitungan sebelum menetapkan tarif baru.
Pemerintah juga memastikan kemampuan masyarakat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kebijakan tarif transportasi.
Dengan demikian, angka Rp5.000 yang saat ini banyak disebut dalam pembahasan publik belum dapat disebut sebagai tarif resmi Transjakarta 2027.
Pengguna Menunggu Kepastian Tarif
Wacana kenaikan tarif Transjakarta pada akhirnya bukan hanya persoalan berapa rupiah tambahan yang harus dibayar penumpang. Bagi pekerja dan pelajar yang menggunakan transportasi publik setiap hari, perubahan tarif akan berdampak langsung terhadap pengeluaran rutin.
Di sisi lain, pemerintah perlu menjaga keberlanjutan layanan transportasi publik melalui skema subsidi yang sehat dan terukur.
Bagi pengguna, harapannya sederhana: apabila tarif memang harus disesuaikan, kenaikan tersebut sejalan dengan peningkatan kualitas layanan, mulai dari jumlah armada, waktu tunggu, kenyamanan, keamanan hingga kondisi fasilitas pendukung.
Sampai keputusan resmi ditetapkan, masyarakat masih harus menunggu besaran tarif Transjakarta yang akan berlaku pada 2027. Yang jelas, Rp5.000 saat ini merupakan rekomendasi DTKJ, bukan tarif resmi yang telah ditetapkan Pemprov DKI Jakarta. (*)






