
BOGOR, NUSANTARA INFO: Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi terus memperluas program pelatihan untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja dan mempersiapkan masyarakat menghadapi kebutuhan dunia usaha serta industri. Pada 2026, BBPVP Bekasi menargetkan pelaksanaan pelatihan bagi sekitar 36.000 peserta.
Kepala BBPVP Bekasi, Yose Rizal, mengatakan pelatihan vokasi yang diselenggarakan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga menyiapkan peserta agar memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
“Total target kita tahun ini di Bekasi itu sekitar 36.000 orang,” ujarnya saat diwawancarai di Omah Kayu Farm (OKF), Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jumat (23/10/2026).
Menurut Yose, pelatihan vokasi menjadi salah satu instrumen untuk membantu masyarakat meningkatkan keterampilan, terutama kelompok yang membutuhkan akses terhadap pekerjaan dan kesempatan mengembangkan usaha.
BBPVP Bekasi merupakan salah satu unit pelatihan di bawah Kemnaker yang menyelenggarakan pelatihan melalui berbagai program dan bidang kejuruan. Selain pelatihan di lingkungan balai, program juga dapat dilaksanakan melalui skema tailor-made training (TMT), yakni pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan kelompok masyarakat atau lembaga pengusul.
Enam Bidang Kejuruan di BBPVP Bekasi
Yose menjelaskan, BBPVP Bekasi memiliki enam bidang kejuruan, yang terdiri atas lima bidang teknis dan satu bidang pengembangan keterampilan produktivitas.
Bidang teknis tersebut meliputi pengelasan, refrigerasi, pariwisata, teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta elektro. Sementara itu, bidang produktivitas diarahkan antara lain untuk mendukung peningkatan kemampuan manajerial di perusahaan dan dunia industri.
Pada bidang pariwisata, pelatihan mencakup sejumlah kompetensi, termasuk perhotelan, memasak atau cooking, dan barista.
Beragam bidang tersebut memberikan pilihan bagi masyarakat untuk mengikuti pelatihan sesuai minat, latar belakang, dan persyaratan program yang tersedia.
Menurut Yose, jenis pelatihan yang dapat diikuti setiap peserta bergantung pada tingkat kerumitan kompetensi yang diajarkan dan kriteria yang ditetapkan untuk masing-masing program.
Karena itu, calon peserta perlu memperhatikan persyaratan sebelum mendaftar agar program yang dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka.
Pelatihan Menyesuaikan Kebutuhan Industri
Perubahan teknologi turut memengaruhi kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Yose mengatakan, berdasarkan analisis kebutuhan pelatihan atau training need analysis, dunia kerja mengalami pergeseran seiring berkembangnya otomatisasi, digitalisasi, dan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Kondisi tersebut membuat penyelenggara pelatihan perlu menyesuaikan kompetensi yang diajarkan agar tetap relevan dengan kebutuhan industri.
“Kalau berdasarkan analisis kebutuhan pelatihan, sekarang banyak pergeseran dari paradigma pekerjaan lama yang tidak dibutuhkan lagi karena banyak digantikan teknologi dan kecerdasan artifisial,” kata Yose.
Ia menjelaskan, kebutuhan industri antara lain mencakup keterampilan otomatisasi, digitalisasi, dan penerapan teknologi pintar.
BBPVP Bekasi juga menerapkan pendekatan project-based learning, yakni pembelajaran berbasis proyek yang diarahkan untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi industri.
Melalui pendekatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami materi pelatihan, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan untuk menghadapi permasalahan nyata sesuai bidang kompetensinya.
Meski demikian, Yose mengakui penyelarasan pelatihan dengan kebutuhan perusahaan bukan perkara sederhana. Salah satu tantangannya adalah memperoleh proyeksi kebutuhan tenaga kerja dari industri untuk beberapa tahun mendatang.
Menurutnya, informasi mengenai jenis pekerjaan dan kompetensi yang akan dibutuhkan perusahaan sangat penting agar pelatihan dapat dirancang sesuai kebutuhan pasar kerja.
Perluas Pelatihan melalui Skema Tailor-Made Training

Selain pelatihan yang dilaksanakan di lingkungan balai, BBPVP Bekasi juga menjalankan skema tailor-made training untuk menjangkau kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Melalui skema ini, kelompok masyarakat atau lembaga dapat mengusulkan pelatihan berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan. BBPVP Bekasi kemudian menyesuaikan pelaksanaan pelatihan dengan kebutuhan tersebut.
Salah satu contohnya adalah pelatihan budidaya melon dan semangka di Omah Kayu Farm, Parung Panjang, Kabupaten Bogor, pada 21–24 Oktober 2026.
Pelatihan tersebut diikuti 32 peserta yang dibagi menjadi dua kelas, masing-masing terdiri atas 16 orang.
Yose mengatakan, dalam skema TMT, pihak pengusul menyediakan lokasi praktik yang sesuai dengan jenis pelatihan. Sementara itu, BBPVP Bekasi mendukung pelaksanaan program melalui penyediaan instruktur dan pembelajaran sesuai kompetensi yang dibutuhkan.
“Tailor-made training ini sangat fleksibel. Jadi, tergantung kebutuhan masyarakat, dunia usaha, dan dunia industri,” ujarnya.
Skema tersebut memungkinkan pelatihan diselenggarakan lebih dekat dengan kelompok sasaran, sekaligus membuka peluang pengembangan keterampilan berdasarkan potensi daerah.
BBPVP Bekasi Perkuat Akses Pelatihan bagi Masyarakat
Yose mengatakan, masyarakat yang ingin mengetahui program pelatihan dapat memantau kanal resmi BBPVP Bekasi, situs Kemnaker, serta layanan Siap Kerja dan Skillhub.
Skillhub merupakan layanan untuk mengakses informasi pelatihan. Calon peserta dapat memeriksa program yang tersedia, persyaratan, dan mekanisme pendaftaran sesuai pengumuman resmi.
Selain melalui kanal digital, BBPVP Bekasi juga berkoordinasi dengan dinas ketenagakerjaan di daerah untuk menyampaikan informasi mengenai program pelatihan.
Menurut Yose, jaringan dinas ketenagakerjaan menjadi salah satu mitra penting untuk menjangkau masyarakat di daerah, termasuk mereka yang membutuhkan informasi mengenai peluang peningkatan keterampilan.
Ia juga menekankan bahwa persyaratan peserta dapat berbeda sesuai program. Untuk pelatihan tertentu dalam skema Pelatihan Vokasi Nasional 2026, terdapat prioritas bagi lulusan SMA/SMK sesuai ketentuan yang berlaku.
Karena itu, masyarakat disarankan memeriksa pengumuman masing-masing pelatihan sebelum melakukan pendaftaran.
Pelatihan Vokasi Tidak Hanya untuk Pekerja Formal
Di tengah persaingan mendapatkan pekerjaan, BBPVP Bekasi juga memperhatikan pengembangan kompetensi bagi masyarakat yang ingin membangun usaha sendiri.
Yose menjelaskan, pelatihan vokasi sebelumnya lebih banyak berorientasi pada penempatan tenaga kerja di sektor formal. Namun, keterbatasan daya serap industri mendorong pengembangan kewirausahaan menjadi salah satu perhatian dalam program pelatihan.
Menurutnya, peserta yang telah menyelesaikan pelatihan perlu memiliki kesempatan untuk memanfaatkan keterampilannya, baik melalui pekerjaan formal maupun kegiatan usaha mandiri.
Bagi peserta yang ingin berwirausaha, dukungan lanjutan dapat mencakup fasilitasi informasi mengenai akses permodalan dan peluang menghubungkan usaha dengan pihak terkait. Namun, dukungan tersebut bergantung pada program, persyaratan, dan kebutuhan masing-masing peserta.
BBPVP Bekasi juga menaruh perhatian pada akses pelatihan bagi penyandang disabilitas. Yose menyebut pendekatan TMT dapat menjadi salah satu solusi ketika kelompok disabilitas membutuhkan pelatihan yang disesuaikan dengan kondisi, aksesibilitas, dan kebutuhan mereka.
Ke depan, penguatan pelatihan vokasi diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah peserta yang memperoleh keterampilan, tetapi juga membantu masyarakat memanfaatkan kompetensi tersebut secara produktif.
Dengan beragam bidang kejuruan dan skema pelatihan yang menyesuaikan kebutuhan, BBPVP Bekasi berupaya memperluas kesempatan masyarakat untuk meningkatkan daya saing dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia kerja. (*)






