Sejarah Sarung dan Peci Santri, Simbol Perlawanan terhadap Penjajahan

Bagikan

Sejarah Sarung dan Peci Santri, Simbol Perlawanan terhadap Penjajahan
Sarung dan peci menjadi bagian dari identitas santri di Indonesia. Selain melekat dalam tradisi pesantren, keduanya dimaknai sebagai simbol kesederhanaan, jati diri budaya, dan semangat mempertahankan tradisi di tengah pengaruh kolonialisme. (Foto: Ilustrasi/AI)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Sarung dan peci telah lama menjadi bagian dari identitas santri di Indonesia. Keduanya tidak hanya digunakan dalam kegiatan keagamaan di lingkungan pesantren, tetapi juga melekat dalam kehidupan masyarakat luas. Di balik kesederhanaannya, sarung dan peci memiliki makna sejarah yang berkaitan dengan identitas budaya serta perlawanan terhadap kolonialisme.

Tradisi pesantren sendiri telah berkembang sejak berabad-abad lalu dan berperan penting dalam perjalanan pendidikan Islam di Nusantara. Seiring perkembangannya, kebiasaan berpakaian para santri turut membentuk identitas khas yang masih bertahan hingga sekarang.

Namun, mengapa sarung dan peci begitu identik dengan santri? Bagaimana kedua pakaian tersebut berkembang menjadi simbol tradisi dan perjuangan masyarakat Indonesia?

Sarung dan Peci Menjadi Simbol Perlawanan terhadap Penjajah

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, penggunaan pakaian bergaya Eropa, seperti jas, celana panjang, dan sepatu, semakin menonjol dalam kehidupan sosial. Pakaian kala itu tidak sekadar berfungsi sebagai penutup tubuh, tetapi juga dapat menjadi penanda status sosial, kedudukan, dan pengaruh budaya.

Dosen Pascasarjana IAI Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, Heru Siswanto, dalam tulisannya yang dimuat NU Online, menjelaskan bahwa penggunaan pakaian bergaya Barat berkaitan dengan upaya kolonial memperluas pengaruh budayanya di tengah masyarakat.

Di tengah situasi tersebut, para kiai dan tokoh pesantren mempertahankan tradisi berpakaian yang telah mengakar di lingkungan mereka. Sarung dan peci menjadi bagian dari identitas yang membedakan kehidupan pesantren dari gaya berpakaian kolonial.

Pilihan mempertahankan pakaian tradisional itu kemudian dimaknai sebagai bentuk penegasan jati diri. Sarung dan peci tidak hanya mencerminkan kesederhanaan, tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kebudayaan dan nilai sendiri yang patut dipertahankan.

Salah satu peristiwa yang kerap dikaitkan dengan sikap tersebut adalah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-2 pada 1927. Dalam forum itu, terdapat keputusan mengenai hukum berpakaian menyerupai penjajah yang dipahami sebagai bentuk penolakan terhadap peniruan gaya kolonial.

Konteks keputusan tersebut penting dipahami sebagai bagian dari dinamika sosial dan keagamaan pada masa penjajahan. Pakaian menjadi salah satu cara masyarakat menegaskan identitas di tengah tekanan dan pengaruh kekuasaan kolonial.

Kisah KH Abdul Wahab Hasbullah yang Tetap Memakai Sarung

Makna sarung sebagai simbol identitas juga terlihat dalam kisah KH Abdul Wahab Hasbullah, salah seorang tokoh penting Nahdlatul Ulama.

Dalam kisah yang sering dikutip dalam pembahasan tradisi berpakaian ulama, Kiai Wahab disebut tetap mengenakan sarung ketika menghadiri undangan Presiden Soekarno ke istana yang mensyaratkan pakaian formal berupa jas dan dasi.

Ia mengenakan jas sebagai atasan, tetapi mempertahankan sarung sebagai bagian dari busananya.

Kisah tersebut kerap dimaknai sebagai gambaran sikap yang mampu memadukan penghormatan terhadap tata cara acara resmi dengan keteguhan mempertahankan identitas budaya.

Sarung dalam konteks ini bukan sekadar pilihan busana. Bagi kalangan pesantren, sarung juga menjadi pengingat terhadap tradisi para ulama dan perjalanan panjang pendidikan Islam di Indonesia.

Meski demikian, kisah tersebut perlu ditempatkan sebagai riwayat sejarah yang perlu dirujuk pada sumber tepercaya ketika digunakan untuk memastikan detail peristiwa, waktu, dan konteks undangan.

Asal-usul Sarung di Indonesia

Sarung memiliki sejarah panjang dalam perdagangan dan pertukaran budaya antarkawasan. Kain berbentuk tabung atau lembaran yang dijahit pada kedua ujungnya ini digunakan di berbagai wilayah Asia, Afrika, dan kawasan Samudra Hindia dengan bentuk serta sebutan yang beragam.

Persebaran sarung di Nusantara tidak dapat dilepaskan dari hubungan perdagangan dan interaksi masyarakat dengan berbagai kebudayaan, termasuk dari kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Baca Juga :  6 Tradisi Unik Perayaan HUT RI di Berbagai Daerah

Karena itu, asal-usul sarung tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu wilayah atau satu kelompok masyarakat. Perkembangannya merupakan bagian dari sejarah pertukaran budaya yang berlangsung dalam waktu panjang.

Di Indonesia, sarung kemudian diterima secara luas dan menjadi bagian dari busana sehari-hari. Sarung digunakan dalam berbagai kegiatan, mulai dari beribadah, menghadiri pengajian, mengikuti acara keluarga, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

Di lingkungan pesantren, sarung dikenal sebagai pakaian praktis yang dapat dikenakan dalam beragam aktivitas. Santri menggunakannya ketika mengikuti pengajian kitab kuning, belajar di madrasah, maupun menjalani kegiatan harian di lingkungan pondok.

Kebiasaan tersebut membuat sarung semakin lekat dengan citra santri. Dalam kehidupan pesantren, sarung juga sering dimaknai sebagai simbol kesederhanaan, kedisiplinan, dan kedekatan dengan tradisi para kiai.

Peci dan Perkembangannya di Nusantara

Selain sarung, peci menjadi bagian penting dari identitas berpakaian santri dan masyarakat Muslim di Indonesia. Penutup kepala yang lazim berbentuk agak lonjong dan berwarna hitam ini sering dikenakan saat salat, menghadiri pengajian, mengikuti acara keagamaan, maupun menghadiri kegiatan resmi.

Sejarah peci memiliki sejumlah versi. Perkembangannya kerap dikaitkan dengan hubungan perdagangan dan pertukaran budaya di kawasan Asia, termasuk dunia Melayu. Namun, asal-usul bentuk peci hitam yang dikenal saat ini tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu cerita.

Salah satu kisah populer menghubungkan peci dengan Laksamana Cheng Ho, penjelajah Muslim asal Tiongkok yang melakukan sejumlah ekspedisi ke Asia Tenggara pada masa Dinasti Ming. Akan tetapi, hubungan langsung antara Cheng Ho dan pengenalan peci di Indonesia memerlukan dukungan sumber sejarah yang kuat agar tidak diperlakukan sebagai fakta yang sudah pasti.

Di Nusantara, peci berkembang menjadi penutup kepala yang digunakan berbagai kelompok masyarakat. Penggunaannya juga meluas di luar lingkungan pesantren, termasuk dalam kegiatan sosial, politik, dan pemerintahan.

Peci hitam bahkan menjadi salah satu simbol kebangsaan Indonesia. Penggunaannya oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional turut memperkuat citra peci sebagai bagian dari identitas masyarakat Indonesia, meskipun maknanya dapat berbeda sesuai konteks sosial dan pemakainya.

Di lingkungan pesantren, peci sering dikaitkan dengan kepantasan, penghormatan ketika menuntut ilmu, dan tradisi berpakaian yang dijaga turun-temurun. Sementara itu, sorban memiliki kedudukan tersendiri dalam tradisi busana Muslim dan kerap diasosiasikan dengan ulama.

Sarung dan Peci, Warisan Budaya Santri yang Bertahan

Seiring berjalannya waktu, penggunaan sarung dan peci tidak lagi terbatas pada kegiatan di pesantren. Keduanya telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia, khususnya dalam kegiatan keagamaan, acara keluarga, pernikahan, peringatan hari besar Islam, hingga sejumlah acara resmi.

Di kalangan santri, sarung dan peci juga menjadi penanda kedekatan dengan lingkungan pesantren. Keduanya merepresentasikan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui kehidupan sehari-hari, pendidikan agama, dan keteladanan para kiai.

Makna sarung dan peci pun terus berkembang. Selain menjadi busana yang praktis, keduanya dapat mencerminkan kesederhanaan, identitas keagamaan, kebanggaan terhadap budaya lokal, serta penghargaan terhadap sejarah.

Karena itu, sarung dan peci tidak tepat dipandang hanya sebagai pakaian tradisional. Dalam perjalanan sejarahnya, keduanya menjadi bagian dari identitas sosial dan budaya yang turut membentuk wajah Islam Nusantara.

Warisan tersebut tetap hidup hingga sekarang karena terus digunakan dan diwariskan dalam kehidupan masyarakat. Bagi santri, mengenakan sarung dan peci bukan semata-mata mengikuti kebiasaan, melainkan juga menjadi salah satu cara merawat tradisi pesantren yang telah lama tumbuh di Indonesia. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait