Cangkang Telur Retak, Masih Aman Dimakan? Ini Penjelasan Ahli

Bagikan

Cangkang Telur Retak, Masih Aman Dimakan? Ini Penjelasan Ahli
Dua butir telur ayam dengan kondisi cangkang retak di antara tumpukan telur lainnya. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Telur dengan cangkang retak sering dianggap masih aman dikonsumsi selama dimasak hingga matang. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Keretakan pada cangkang telur dapat membuka jalan bagi bakteri berbahaya untuk masuk dan mencemari bagian dalam telur.

Pakar keamanan pangan Martin Bucknavage menjelaskan, cangkang telur memiliki fungsi penting sebagai pelindung alami dari kontaminasi bakteri. Ketika cangkang mengalami keretakan, perlindungan tersebut tidak lagi optimal.

Dilansir dari Reader’s Digest, Selasa (3/11/2026), Bucknavage mengingatkan bahwa retakan sekecil apa pun tetap berpotensi menjadi jalur masuk patogen maupun bakteri pembusuk.

“Cangkang telur merupakan lapisan pelindung. Jadi, setiap retakan yang terjadi membuka peluang bagi patogen atau bakteri pembusuk untuk masuk,” jelas Bucknavage.

Menurutnya, ukuran retakan bukan satu-satunya faktor yang menentukan risiko. Retakan kecil yang hampir tidak terlihat pun tetap perlu diwaspadai karena dapat memungkinkan bakteri masuk ke dalam telur.

Mengapa Telur Retak Berisiko Dikonsumsi?

Cangkang telur berfungsi sebagai lapisan pelindung yang membantu mencegah kontaminasi dari luar. Ketika lapisan tersebut rusak, mikroorganisme berbahaya berpeluang masuk dan mencemari isi telur.

Salah satu bakteri yang perlu diwaspadai adalah Salmonella. Bakteri ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan hingga penyakit serius.

Selain Salmonella, cangkang telur juga berpotensi membawa bakteri Escherichia coli (E. coli) dan Staphylococcus. Mengacu pada informasi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bakteri tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila tertelan. Dalam kasus tertentu yang jarang terjadi, infeksi dapat menimbulkan dampak sangat serius hingga mengancam jiwa.

Karena itu, telur retak tidak sebaiknya langsung dianggap aman hanya karena akan dimasak hingga matang. Kondisi telur dan waktu sejak keretakan terjadi juga perlu diperhatikan.

Telur Retak Boleh Digunakan, Asalkan…

Meski berisiko, telur yang baru mengalami keretakan tidak selalu harus langsung dibuang. Bucknavage menjelaskan, telur yang baru retak ketika dibawa pulang dari toko atau setelah tiba di rumah masih dapat digunakan dengan penanganan yang tepat.

Baca Juga :  Benarkah Tabir Surya Picu Kanker Kulit? Ini Fakta Ilmiahnya

Telur tersebut dapat segera dimasak atau dipindahkan ke wadah bersih yang tertutup rapat.

“Jika telur retak dalam perjalanan pulang dari toko atau setelah sampai di rumah, telur bisa langsung digunakan atau dipindahkan ke wadah bersih yang tertutup,” ujarnya.

Bucknavage menyarankan telur yang baru retak segera dimasak atau diolah dalam beberapa jam. Apabila disimpan dalam wadah bersih dan tertutup rapat, telur tersebut maksimal digunakan dalam waktu dua hari.

Namun, ketentuan ini berlaku untuk telur yang diketahui baru mengalami keretakan. Telur yang sudah retak sejak dibeli atau tidak diketahui berapa lama mengalami kerusakan sebaiknya tidak dianggap memiliki kondisi keamanan yang sama.

Cara Memasak Telur untuk Mengurangi Risiko Bakteri

Selain memperhatikan kondisi cangkang, proses memasak juga berperan penting dalam mengurangi risiko paparan bakteri.

Bucknavage menyarankan telur dimasak hingga bagian putih dan kuningnya benar-benar mengeras. Telur juga dapat diolah menjadi hidangan panggang dengan suhu minimal 165 derajat Fahrenheit atau sekitar 74 derajat Celsius.

“Secara umum, telur sebaiknya dimasak sampai putih dan kuningnya mengeras, atau dimasak dalam hidangan panggang dengan suhu minimal 165 derajat Fahrenheit,” jelasnya.

Langkah tersebut penting untuk membantu mengurangi risiko kontaminasi bakteri yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Masyarakat juga disarankan memeriksa kondisi telur dan kemasannya sebelum membeli. Pastikan tidak ada cangkang yang retak atau rusak agar risiko kontaminasi dapat diminimalkan.

Dengan demikian, keamanan konsumsi telur tidak hanya ditentukan oleh tingkat kematangan saat dimasak, tetapi juga kondisi cangkang dan cara penanganannya sejak pembelian hingga pengolahan. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait