Perang AS-Iran Meluas, Houthi Blokade Laut Merah Ancam Pasokan Minyak dan Perdagangan Dunia

Bagikan

Perang AS-Iran Meluas, Houthi Blokade Laut Merah Ancam Pasokan Minyak dan Perdagangan Dunia
Kapal-kapal berlayar di perairan dekat Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia. Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta ancaman blokade di Laut Merah memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dan perdagangan global. (Foto: Reuters)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak yang semakin berbahaya. Ketegangan yang semula didominasi aksi militer kini merembet ke jalur perdagangan internasional setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal yang berkaitan dengan Arab Saudi di Laut Merah.

Perkembangan terbaru ini memperbesar risiko terganggunya dua jalur pelayaran paling strategis dunia, yakni Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Keduanya merupakan urat nadi distribusi minyak mentah dan perdagangan global yang menghubungkan Timur Tengah dengan Asia, Eropa, dan Afrika.

Di tengah eskalasi tersebut, Pakistan kembali berupaya memainkan peran sebagai mediator untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.

Ancaman Bergeser ke Jalur Perdagangan Global

Selain saling melancarkan serangan militer, Washington dan Teheran kini berselisih mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Amerika Serikat menuduh Iran berupaya mengendalikan lalu lintas kapal komersial dengan mengarahkan kapal-kapal ke jalur pelayaran yang berada dekat wilayah pantainya sekaligus mengenakan biaya kepada kapal yang melintas.

Situasi semakin memanas setelah sejumlah kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran serangan dalam beberapa hari terakhir, memicu kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi dunia.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai praktik tersebut berpotensi menciptakan preseden berbahaya bagi hukum pelayaran internasional.

“Jika kita menciptakan preseden bahwa sebuah negara dapat memutuskan untuk mengendalikan jalur pelayaran internasional, memungut biaya, dan menghancurkan kapal yang menolak membayar, maka itu akan menjadi preseden yang sangat berbahaya,” kata Rubio.

Pernyataan itu menegaskan kekhawatiran Washington bahwa sengketa di Timur Tengah dapat berdampak jauh melampaui kawasan konflik.

Houthi Umumkan Blokade Laut Merah

Tekanan terhadap perdagangan internasional semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan blokade laut terhadap kapal-kapal yang berhubungan dengan Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb.

Kelompok yang didukung Iran tersebut menyatakan akan menyerang kapal yang mengangkut maupun membongkar minyak Saudi.

Dengan ancaman itu, dunia kini menghadapi potensi gangguan secara bersamaan di dua jalur pelayaran utama.

Bab el-Mandeb sendiri menjadi penghubung Laut Merah dengan Teluk Aden dan Terusan Suez, sehingga memiliki peran vital bagi perdagangan antara Asia dan Eropa.

Presiden AS Donald Trump menegaskan pemerintahannya siap mengambil langkah apabila ancaman tersebut benar-benar diwujudkan.

“Sejauh ini itu belum terjadi. Jika hal seperti itu terjadi, kami akan menanganinya,” ujar Trump.

ASEAN Ikut Mewaspadai Dampak Konflik

Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut menjadi perhatian para Menteri Luar Negeri ASEAN dalam pertemuan di Manila.

Marco Rubio memperingatkan bahwa jika penguasaan jalur pelayaran internasional dibiarkan menjadi preseden, praktik serupa bisa muncul di kawasan Indo-Pasifik.

Menurutnya, ancaman tersebut tidak hanya menyangkut Timur Tengah, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas maritim kawasan Asia.

Rubio menegaskan Amerika Serikat tetap berkomitmen menjaga kebebasan navigasi bersama negara-negara ASEAN meskipun fokus Washington saat ini tertuju pada konflik dengan Iran.

Di sela forum tersebut, Rubio juga menghadiri pertemuan Menteri Luar Negeri negara-negara Quad yang terdiri atas Amerika Serikat, Australia, India, dan Jepang.

Baca Juga :  Remaja Jerman Kecanduan Media Sosial? Ilmuwan Ungkap Fakta Mengejutkan di Balik Fenomena Ini

Keempat negara kembali menegaskan pentingnya menjaga kebebasan pelayaran dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Pakistan Kembali Ambil Peran sebagai Mediator

Di tengah meningkatnya tensi, Pakistan kembali mencoba membuka jalur diplomasi.

Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni melakukan kunjungan ke Islamabad dan bertemu Perdana Menteri Shehbaz Sharif, Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi, serta Panglima Angkatan Darat Jenderal Asim Munir.

Seorang diplomat yang dikutip kantor berita dpa menyebut Islamabad berupaya menghentikan eskalasi sebelum berubah menjadi konflik regional.

“Pakistan kembali mulai memainkan peran sebagai mediator untuk menghentikan perang agar tidak meluas.”

Sumber intelijen juga menyebut Pakistan mendorong Iran membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari langkah meredakan ketegangan.

Di sisi lain, Islamabad juga mengajukan permintaan fasilitas stabilisasi devisa senilai sekitar US$10 miliar kepada Departemen Keuangan AS.

Dana tersebut diharapkan memperkuat cadangan devisa Pakistan, menjaga stabilitas nilai tukar rupee, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan multilateral di tengah program reformasi ekonomi yang didukung Dana Moneter Internasional (IMF).

Pentagon Siapkan Anggaran Tambahan

Meski diplomasi terus diupayakan, pemerintah Amerika Serikat menunjukkan kesiapan menghadapi konflik berkepanjangan.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengungkapkan kepada Senat bahwa perang melawan Iran hingga kini telah menghabiskan biaya sekitar US$37,5 miliar atau setara sekitar Rp672 triliun.

Pentagon juga mengajukan tambahan anggaran kepada Kongres guna melanjutkan operasi militer sekaligus mengisi kembali stok persenjataan.

Pemerintahan Trump menegaskan tekanan terhadap Iran akan terus dilakukan selama Teheran belum mengubah kebijakannya.

Lebanon Jadi Bagian Strategi Stabilitas Regional

Dalam upaya menjaga stabilitas kawasan, Presiden Trump juga bertemu Presiden Lebanon Joseph Aoun.

Dalam pertemuan tersebut, Trump mengumumkan rencana pembukaan kembali penerbangan langsung antara Amerika Serikat dan Lebanon untuk pertama kalinya sejak 1985.

Washington berharap kebijakan tersebut dapat membantu pemulihan ekonomi Lebanon yang selama bertahun-tahun terdampak konflik dan krisis.

Namun demikian, Trump kembali mengingatkan Houthi agar tidak mengganggu pelayaran internasional di Laut Merah.

Menurutnya, Amerika Serikat siap bertindak apabila kelompok tersebut benar-benar menutup jalur perdagangan dunia.

Risiko Besar bagi Ekonomi Global

Pengamat menilai ancaman terhadap Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb menjadi salah satu risiko geopolitik terbesar saat ini.

Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia dari negara-negara Teluk, sementara Bab el-Mandeb menjadi penghubung penting menuju Terusan Suez yang dilalui jutaan barel minyak dan berbagai komoditas setiap harinya.

Apabila kedua jalur tersebut mengalami gangguan dalam waktu bersamaan, dampaknya diperkirakan meluas terhadap harga minyak dunia, biaya logistik, inflasi global, hingga rantai pasok internasional.

Meski berbagai jalur diplomasi masih dibuka, belum terlihat indikasi kuat bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran akan segera mereda. Sebaliknya, eskalasi terbaru justru menunjukkan bahwa perang kini tidak lagi hanya berlangsung di medan tempur, melainkan telah merambah jalur perdagangan global yang menjadi tulang punggung perekonomian dunia. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait