Stok BBM Nasional Aman 20 Hari, Bahlil Wanti-wanti Harga Bisa Naik Imbas Konflik Timur Tengah

Bagikan

Stok BBM Nasional Aman 20 Hari, Bahlil Wanti-wanti Harga Bisa Naik Imbas Konflik Timur Tengah
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia usai menghadiri rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/3/2026). (Foto: Istimewa)

Jakarta, Nusantara Info: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri selama 20 hari ke depan. Kepastian ini disampaikan di tengah memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah.

“Masih cukup, 20 hari,” ujar Bahlil usai menghadiri rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/3/2026).

Ia juga menegaskan bahwa penyaluran subsidi BBM kepada masyarakat hingga saat ini berjalan lancar tanpa kendala berarti. Pemerintah, kata dia, terus memantau perkembangan global untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional.

Namun demikian, Bahlil mengingatkan bahwa situasi geopolitik yang terus memanas berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang pada akhirnya dapat berdampak pada harga energi di dalam negeri.

“Harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik terus memanas di Timur Tengah. Besok saya akan rapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN), setelah itu baru saya akan menyampaikan hasil analisis dan kajian dari DEN,” jelasnya.

Selat Hormuz Jadi Kunci Stabilitas Pasokan
Gejolak harga minyak global saat ini sangat dipengaruhi oleh kondisi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia.

Data U.S. Energy Information Administration (EIA) menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat tersebut pada 2024, setara dengan sekitar 20 persen konsumsi minyak global.

Nilai perdagangan yang melintasi Selat Hormuz diperkirakan mencapai 500 miliar dolar AS atau sekitar Rp8,4 kuadriliun. Negara-negara produsen utama seperti Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada jalur ini untuk menyalurkan ekspor minyak ke berbagai kawasan, termasuk Asia, Amerika Utara, dan Eropa.

Baca Juga :  Pemkab Mappi Gelar Nikah Massal di Tujuh Distrik

Kawasan Asia menjadi pasar terbesar, dengan sekitar 84 persen ekspor kondensat dialirkan ke negara-negara seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Risiko Gangguan dan Lonjakan Biaya Logistik
Memanasnya konflik meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dunia. Sejumlah perusahaan pelayaran global mulai mengambil langkah antisipatif. Perusahaan logistik Maersk, misalnya, dilaporkan menangguhkan seluruh pelayaran melalui Selat Hormuz hingga waktu yang belum ditentukan.

Sebagian operator lain memilih mengalihkan rute melalui jalur yang lebih jauh, seperti memutar melalui ujung selatan Afrika. Langkah ini berdampak pada peningkatan biaya logistik dan waktu pengiriman.

Meski begitu, analis energi dari Energy Aspects, Amrita Sen, menilai kemungkinan Iran menutup total Selat Hormuz relatif kecil. Menurutnya, kekuatan militer Amerika Serikat dan sekutunya mampu mencegah skenario tersebut.

“AS dan Israel akan dengan cepat menetralisir langkah tersebut. Kekuatan militer AS jauh lebih unggul,” ujarnya.

Kendati demikian, risiko gangguan tetap ada, terutama dalam bentuk serangan sporadis terhadap kapal tanker yang dapat mengganggu rantai pasok global.

Dengan dinamika tersebut, pemerintah Indonesia kini bersiap mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk fluktuasi harga minyak dunia yang dapat berdampak langsung pada perekonomian nasional. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait