
Jakarta, Nusantara Info: Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 berlangsung meriah di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Jumat (1/5/2026). Sejak pagi hari, ratusan ribu pekerja dari berbagai daerah memadati lokasi aksi, menjadikan kawasan tersebut lautan massa buruh.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) sekaligus Ketua Panitia May Day, Andi Gani Nena Wea, menyebut jumlah peserta tahun ini mencapai sekitar 400.000 orang.
Kepadatan sudah terlihat sejak dini hari. Ratusan bus pengangkut massa buruh memenuhi ruas Jalan Medan Merdeka Selatan hingga menyebabkan arus lalu lintas tersendat. Bus-bus besar bahkan tampak menguasai hingga tiga lajur jalan, sementara sebagian lainnya menurunkan penumpang di pinggir jalan agar massa bisa berjalan kaki menuju titik aksi.
Lebih dari Sekadar Seremoni
Di tengah gegap gempita peringatan May Day, 1 Mei sejatinya bukan sekadar hari libur atau agenda tahunan. Tanggal ini menyimpan sejarah panjang perjuangan kelas pekerja yang sarat dengan pengorbanan.
Akar peringatan ini bermula dari kondisi buruh di Amerika Serikat pada abad ke-19 yang harus bekerja hingga 18–20 jam per hari dalam situasi yang jauh dari layak. Tekanan tersebut memicu tuntutan global untuk menetapkan delapan jam kerja sebagai standar.
Pada 1884, Federasi Serikat Dagang dan Buruh Terorganisasi (FOTLU) mencetuskan tuntutan agar delapan jam kerja diberlakukan mulai 1 Mei 1886. Seruan ini kemudian memicu gelombang aksi besar di berbagai kota di Amerika Serikat.
Tragedi Haymarket yang Mengubah Sejarah
Puncak ketegangan terjadi dalam peristiwa yang dikenal sebagai Kerusuhan Haymarket di Chicago. Pada 4 Mei 1886, sebuah ledakan bom di tengah aksi buruh menewaskan sedikitnya tujuh polisi dan delapan warga sipil, serta melukai puluhan lainnya.
Meski pelaku pengeboman tidak pernah terungkap secara pasti, delapan aktivis buruh ditangkap dan diadili. Empat di antaranya kemudian dieksekusi mati, menjadikan peristiwa ini sebagai salah satu bab paling kelam dalam sejarah gerakan buruh dunia.
Tragedi tersebut justru memperkuat solidaritas internasional pekerja dan menjadi simbol perjuangan melawan ketidakadilan.
Dari Chicago ke Monas
Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan tersebut, Kongres Buruh Internasional di Paris pada 1889 menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional. Sejak 1890, May Day diperingati di berbagai negara sebagai simbol persatuan dan perjuangan pekerja.
Di Indonesia, peringatan Hari Buruh telah dikenal sejak 1918 di Surabaya. Namun, perayaan ini sempat dilarang pada masa Orde Baru sebelum akhirnya kembali diakui dan ditetapkan sebagai hari libur nasional pada 2013.
Kini, lebih dari satu abad setelah tragedi Haymarket, semangat May Day tetap hidup. Ribuan buruh yang memadati Monas bukan hanya merayakan, tetapi juga meneruskan tradisi panjang menyuarakan hak, keadilan, dan kesejahteraan.
Di tengah riuhnya aksi di jantung ibu kota, May Day 2026 menjadi pengingat bahwa di balik setiap tuntutan yang disuarakan hari ini, ada sejarah panjang perjuangan yang membentuk dunia kerja modern. (*)





