Ratusan Porsi MBG Dikembalikan di Mojokerto, Siswa Keluhkan Ikan Nila Bau dan Kurang Segar

Bagikan

Ratusan Porsi MBG Dikembalikan di Mojokerto, Siswa Keluhkan Ikan Nila Bau dan Kurang Segar
Ratusan porsi MBG dari SPPG Beloh dikembalikan setelah siswa mengeluhkan lauk ikan nila dalam menu yang dibagikan pada Selasa (11/8/2026). (Foto: Istimewa)

MOJOKERTO, NUSANTARA INFO: Ratusan porsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Beloh, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dikembalikan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setelah menu yang dibagikan kepada siswa pada Selasa (11/8/2026) dikeluhkan karena lauk ikan nila dinilai berbau dan kurang segar.

Pengembalian menu tersebut terjadi di sejumlah lembaga pendidikan dan posyandu yang menerima distribusi MBG dari SPPG Beloh. Salah satunya Madrasah Ibtidaiyah (MI) An-Nur Beloh, yang menerima paket MBG untuk 124 siswa.

Kepala MI An-Nur, Nurodi, mengatakan sebagian siswa mengeluhkan aroma lauk ikan nila goreng presto yang terdapat dalam paket makanan.

“Katanya sebagian bau. Entah baunya seperti apa, kurang paham anak-anak. Entah kurang terbiasa atau bagaimana. Cuma memang menunya tidak sesuai. Ikan nilanya seperti ikan asin,” ujar Nurodi, Selasa (11/8/2026).

Hanya Enam Porsi yang Dimakan Siswa MI An-Nur

Nurodi menjelaskan, dari sekitar 124 paket MBG yang diterima MI An-Nur, hanya enam porsi yang dikonsumsi siswa.

Sementara sebagian besar paket lainnya masih dalam kondisi utuh sehingga pihak sekolah memilih mengembalikannya kepada SPPG Beloh.

“Lainnya masih utuh,” ucap Nurodi.

Menurut Nurodi, kejadian tersebut merupakan kali pertama menu MBG yang diterima sekolahnya mengalami keluhan hingga sebagian besar makanan dikembalikan.

Pihak sekolah berharap kualitas menu yang disalurkan pada program MBG dapat diperhatikan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

SDN Beloh Juga Keluhkan Menu MBG

Keluhan terhadap menu MBG dari SPPG Beloh tidak hanya datang dari MI An-Nur. SDN Beloh juga menyampaikan keberatan terhadap menu yang diterima pada hari yang sama.

Kepala SDN Beloh, Khurin’in, menilai kondisi ikan nila yang menjadi lauk terlihat kering dan tidak segar ketika diperiksa.

“Ketika saya lihat sendiri, saya lihat itu kok seperti ini. Menunya itu ikan nila kering, seperti tidak fresh. Lalu sup, supnya seperti itu rasanya,” ungkap Khurin’in.

Di SDN Beloh terdapat 232 penerima MBG dari SPPG Beloh.

Khurin’in mengatakan pihak sekolah meminta siswa yang tidak berkenan mengonsumsi makanan tersebut untuk membawanya pulang. Sementara siswa yang merasa menu tersebut masih layak dan sesuai selera tetap diperbolehkan memakannya.

“Pokoknya kalau saya itu ada yang kurang cocok, pasti langsung saya laporkan langsung. Setelah itu akhirnya anak-anak saya suruh bawa tempat makan agar dibawa pulang, entah di rumah diramut seperti apa sama ibunya, kita tidak tahu. Yang penting di omprengnya kosong,” ungkapnya.

SPPG Beloh Akui Ada Pengembalian dan Siapkan Evaluasi

Pengawas gizi SPPG Beloh, M. Irfan, membenarkan adanya sejumlah lembaga penerima yang mengembalikan menu MBG pada Selasa tersebut.

Menurut Irfan, pihak SPPG akan melakukan evaluasi terhadap menu yang dibagikan, termasuk pemilihan bahan makanan dan penyajiannya.

“Supaya menu-menu yang kami berikan ke penerima manfaat bisa lebih baik ke depannya,” kata Irfan.

Irfan menyebut kejadian penolakan menu tersebut merupakan yang pertama terjadi di SPPG Beloh.

Baca Juga :  Birokrasi hingga Diskriminasi, Ini Penyebab Tenaga Kerja Asing Hengkang dari Jerman

Menurut dia, menu ikan nila goreng presto dipilih sebagai bagian dari upaya membuat menu MBG lebih bervariasi. Namun, setelah menerima keluhan dari penerima manfaat, SPPG memastikan akan mengevaluasi kembali pemilihan menu.

“Jadi kami benar-benar evaluasi lebih baik lagi,” tegasnya.

1.893 Penerima di 18 Sekolah dan 3 Posyandu

Pada Selasa (11/8/2026), SPPG Beloh mendistribusikan MBG kepada 1.893 penerima manfaat yang tersebar di 18 sekolah dan tiga posyandu.

Menu yang menurut keterangan SPPG dibagikan pada hari itu terdiri dari nasi putih, ikan nila goreng presto, perkedel kentang, dan buah salak.

Sementara berdasarkan keterangan dari pihak sekolah, terdapat penerima yang mengeluhkan kondisi ikan dan rasa menu pendamping. Perbedaan penyebutan menu antara keterangan awal dari sekolah dan rincian menu dari SPPG menjadi bagian yang perlu diperjelas dalam evaluasi distribusi makanan.

Keluhan penerima, khususnya mengenai aroma dan kondisi lauk, menjadi perhatian karena program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga keamanan, mutu, dan penerimaan makanan oleh penerima manfaat.

Makanan yang Dikembalikan Tidak Kembali Dibagikan ke Siswa

Irfan menjelaskan, paket MBG yang tidak diterima oleh penerima manfaat ditarik kembali oleh pihak SPPG.

Makanan tersebut kemudian diberikan kepada relawan dan masyarakat sekitar yang bersedia menerima.

“Untuk MBG yang tidak diterima oleh penerima, pihaknya menindaklanjutinya dengan menarik lagi MBG yang telah dibagikan,” demikian penjelasan SPPG Beloh.

Sejumlah lembaga yang disebut mengembalikan menu tersebut antara lain MI An-Nur, TK Pembina, TK Sumanding, serta sejumlah posyandu di Desa Beloh.

Langkah menarik kembali makanan yang tidak dikonsumsi menjadi bagian dari tindak lanjut SPPG setelah menerima keluhan dari penerima manfaat.

Evaluasi Penting untuk Menjaga Kualitas MBG

Kejadian di Mojokerto menjadi catatan bagi penyelenggara MBG di tingkat pelaksana. Program yang menyasar anak-anak dan kelompok penerima manfaat lainnya membutuhkan pengawasan berlapis sejak pemilihan bahan baku, pengolahan, pengemasan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi.

Keluhan mengenai bau atau kondisi lauk perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan evaluasi agar penyebabnya dapat diketahui secara jelas. Dengan demikian, perbaikan tidak hanya dilakukan pada jenis menu, tetapi juga pada proses pengolahan dan distribusinya apabila memang ditemukan persoalan.

Bagi penerima manfaat, kualitas makanan merupakan bagian penting dari keberhasilan program MBG. Makanan yang bergizi juga harus memenuhi aspek kelayakan dan dapat diterima oleh penerima.

SPPG Beloh pun menyatakan akan melakukan evaluasi agar menu yang disalurkan berikutnya dapat lebih baik dan kejadian pengembalian makanan tidak kembali terjadi.

Dengan adanya keluhan ini, perhatian kini tertuju pada hasil evaluasi SPPG Beloh serta langkah perbaikan yang akan dilakukan untuk memastikan makanan yang diterima siswa tetap memenuhi standar kualitas dan layak dikonsumsi. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait