Karhutla Terjadi di 10 Distrik Merauke, BNPB Catat 63 Hektare Lahan Terbakar

Bagikan

Karhutla Terjadi di 10 Distrik Merauke, BNPB Catat 63 Hektare Lahan Terbakar
Ilustrasi karhutla di Papua. (Foto: Istimewa)

MERAUKE, NUSANTARA INFO: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan terjadi di 10 distrik di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas lahan terbakar sementara mencapai sekitar 63 hektare di sembilan lokasi, sedangkan luas kebakaran di satu lokasi lainnya masih dalam pendataan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, sepuluh distrik yang terdampak meliputi Kurik, Nokenjere, Sota, Tanah Miring, Eli Kobel, Muting, Subur, Ilwayab, Ngguti, dan Kaptel.

“Sepuluh distrik yang dilaporkan terdampak meliputi Kurik, Nokenjere, Sota, Tanah Miring, Eli Kobel, Muting, Subur, Ilwayab, Ngguti, dan Kaptel,” kata Berton dalam keterangannya, Minggu (11/10/2026).

Lokasi kebakaran tersebar di Kampung Harapan Makmur, Kampung Kondo, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, Desa Bumun, Desa Set Agung, Kampung Wakai, Kampung Wanam, Kampung Salam Epe, dan Kampung Ihalik.

BNPB menegaskan, angka luas lahan terbakar tersebut masih bersifat sementara. Data dapat berubah mengikuti hasil pendataan dan pemutakhiran kondisi di lapangan.

Rincian Luas Karhutla di Merauke

Berdasarkan data sementara BNPB, kebakaran di Desa Bumun, Distrik Eli Kobel, menjadi lokasi dengan luas lahan terbakar terbesar di antara sembilan lokasi yang telah dirinci, yakni sekitar 20 hektare.

Berikut rincian luas lahan yang terbakar di sembilan lokasi:

  • Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik: sekitar 7 hektare.
  • Desa Sota, Distrik Sota: sekitar 5 hektare.
  • Desa Sarmayam Indah, Distrik Tanah Miring: sekitar 5 hektare.
  • Desa Bumun, Distrik Eli Kobel: sekitar 20 hektare.
  • Desa Set Agung, Distrik Muting: sekitar 4 hektare.
  • Kampung Wakai, Distrik Subur: sekitar 3 hektare.
  • Kampung Wanam, Distrik Ilwayab: sekitar 9 hektare.
  • Kampung Salam Epe, Distrik Ngguti: sekitar 7 hektare.
  • Kampung Ihalik, Distrik Kaptel: sekitar 3 hektare.

Total luas lahan terbakar di sembilan lokasi tersebut mencapai sekitar 63 hektare. Sementara itu, kebakaran di Kampung Kondo, Distrik Nokenjere, belum masuk dalam penghitungan karena luas area terdampak masih didata.

“Adapun luas lahan terbakar di Kampung Kondo, Distrik Nokenjere, masih dalam pendataan. Seluruh angka tersebut merupakan data sementara dan dapat berubah sesuai hasil pemutakhiran di lapangan,” ujar Berton.

BNPB belum menyampaikan penyebab pasti kebakaran di sejumlah lokasi tersebut. Penyelidikan masih berlangsung untuk mengetahui pemicu munculnya api.

Baca Juga :  Arsenal dan Inter Milan Lolos ke Semifinal Liga Champions Musim 2024/2025

“Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan,” kata Berton.

Sejumlah Lokasi Padam, Titik Lain Masih Ditangani

Upaya pemadaman dan pengendalian karhutla dilakukan dengan kondisi penanganan yang berbeda-beda di setiap lokasi. Berdasarkan laporan yang diterima BNPB pada Sabtu (10/10/2026), api di Kampung Harapan Makmur, Desa Sota, Desa Sarmayam Indah, dan Desa Bumun telah padam dan memasuki tahap pendinginan.

Tahap pendinginan dilakukan setelah api utama berhasil dipadamkan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali titik api, terutama pada material yang masih menyimpan panas.

Sementara itu, kebakaran di Desa Set Agung masih dalam penanganan. Penanganan kebakaran di Kampung Wanam dan Kampung Salam Epe dilakukan oleh pihak perusahaan.

Adapun tiga lokasi yang masih menghadapi kendala penanganan adalah Kampung Kondo di Distrik Nokenjere, Kampung Wakai di Distrik Subur, dan Kampung Ihalik di Distrik Kaptel. Ketiga lokasi tersebut dilaporkan belum dapat ditangani karena letaknya jauh dan sulit dijangkau.

Kondisi geografis menjadi salah satu tantangan dalam pengendalian karhutla di Merauke. Jarak menuju titik kebakaran dan keterbatasan akses dapat memengaruhi kecepatan tim dalam mencapai lokasi serta melakukan pemadaman.

Berton mengatakan, pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait perlu terus dilakukan untuk mendukung upaya pengendalian api di wilayah terdampak.

“Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam upaya pengendalian api sehingga pemantauan dan koordinasi dengan pihak terkait perlu terus dilakukan,” ujarnya.

Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

Meluasnya laporan karhutla di sepuluh distrik tersebut membuat pemantauan kondisi lapangan menjadi penting, terutama di lokasi yang belum dapat dijangkau petugas. Pembaruan informasi diperlukan untuk memastikan perkembangan luas area terdampak, status pemadaman, serta kebutuhan penanganan lanjutan.

Meski demikian, hingga laporan BNPB diterima, belum ada korban jiwa yang dilaporkan akibat kebakaran hutan dan lahan tersebut.

“Hingga laporan diterima, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat karhutla tersebut,” kata Berton.

BNPB menyatakan data luas kebakaran masih dapat berubah seiring proses pendataan. Penyebab kebakaran juga belum dapat dipastikan karena masih dalam penyelidikan.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada hasil pemantauan, penanganan di titik-titik yang masih terbakar, serta pembaruan informasi dari petugas dan pihak terkait di lapangan. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait