Menkes Budi: Indonesia Tak Kuat Biayai Kesehatan 280 Juta Penduduk Jika Hanya Berobat

Bagikan

Menkes Budi: Indonesia Tak Kuat Biayai Kesehatan 280 Juta Penduduk Jika Hanya Berobat
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan strategi penguatan layanan kesehatan melalui pendekatan promotif dan preventif di Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026). (Foto: Istimewa)

JAKARTA, NUSANTARA INFO: Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan Indonesia tidak akan mampu membiayai layanan kesehatan bagi 280 juta penduduk jika masih mengandalkan pendekatan kuratif atau pengobatan ketika masyarakat sudah sakit.

Pemerintah kini mendorong perubahan strategi menuju pendekatan promotif dan preventif, salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Menurut Budi, upaya menjaga masyarakat tetap sehat perlu menjadi prioritas agar pembiayaan kesehatan nasional lebih efisien dan berkelanjutan.

“Sebagai bankir saya melihat, kalau pendekatan program kesehatan Kemenkes seperti yang lalu (kuratif), enggak akan kuat kita membiayai layanan kesehatan Indonesia,” kata Budi dalam Kongres Nasional XVI Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia di Kompleks DPR/MPR, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026).

Budi menjelaskan, pendekatan promotif dan preventif dinilai lebih murah dibandingkan mengandalkan pengobatan setelah penyakit berkembang.

Ia membandingkan belanja kesehatan per kapita sejumlah negara dengan angka harapan hidup masyarakatnya. Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa besarnya anggaran kesehatan tidak selalu berbanding lurus dengan panjang usia harapan hidup.

Belanja Kesehatan Amerika Serikat dan Kuba Jadi Perbandingan

Budi mencontohkan Amerika Serikat (AS) yang mengalokasikan belanja kesehatan per kapita sekitar 11.900 dollar AS per tahun, dengan usia harapan hidup 79 tahun.

Sementara itu, Kuba memiliki belanja kesehatan per kapita sekitar 1.900 dollar AS, tetapi angka harapan hidupnya juga mencapai 79 tahun.

Budi mengaku pernah menyampaikan perbandingan tersebut kepada Menteri Kesehatan Amerika Serikat sebelumnya, Bob Kennedy.

“Kalau usia 70 tahun, saya akan pindah kewarganegaraan dari warga negara Amerika ke warga negara Panama atau Kuba,” ujar Budi.

Ia kemudian menjelaskan alasan perbandingan tersebut.

“Kenapa? Karena Panama dan Kuba rata-rata usia hidupnya sama seperti Amerika, 79 tahun, tapi belanjanya cuma 1.900,” bebernya.

Menurut Budi, perbandingan tersebut memperlihatkan pentingnya strategi kesehatan yang tidak semata-mata berorientasi pada pengobatan.

Jepang dan Singapura Utamakan Masyarakat Tetap Sehat

Budi juga membandingkan sistem kesehatan Jepang dan Singapura.

Jepang mengalokasikan belanja kesehatan per kapita sekitar 5.500 dollar AS per tahun, dengan usia harapan hidup mencapai 84 tahun.

Sementara Singapura memiliki belanja kesehatan per kapita sekitar 3.300 dollar AS per tahun, dengan usia harapan hidup yang sama, yakni 84 tahun.

Baca Juga :  Sempat Dicopot Purbaya, Luky Alfirman Kini Dilantik Prabowo Jadi Wamenkeu

“Singapura, yang sekarang agak enggak sehat karena asapnya banyak, itu usianya 84 sama dengan Jepang, belanjanya 3.300 (dollar AS),” kata Budi.

Ia menilai strategi menjaga masyarakat tetap sehat menjadi faktor penting dalam pengendalian pembiayaan kesehatan.

“Kenapa Jepang lebih hemat daripada Amerika, usia lebih panjang? Karena strateginya di Jepang adalah menjaga masyarakatnya sehat, bukan mengobati saat sakit, Bapak/ibu. Singapura menjaga masyarakatnya sehat, bukan hanya mengobati saat sakit,” ujar Budi.

“Itu kenapa namanya Menteri Kesehatan, bukan Menteri Kesakitan,” lanjutnya.

Indonesia Perlu Perkuat Anggaran Kesehatan Preventif

Budi turut membandingkan belanja kesehatan Indonesia dengan Malaysia.

Malaysia mengalokasikan belanja kesehatan per kapita sekitar 430 dollar AS per tahun, dengan usia harapan hidup 76 tahun.

Adapun Indonesia memiliki belanja kesehatan sekitar 130 dollar AS per kapita per tahun, dengan usia harapan hidup 74 tahun.

Budi menyebut, jika Indonesia ingin menyamai belanja kesehatan per kapita Malaysia, pemerintah perlu menambah anggaran sekitar 300 dollar AS per penduduk per tahun.

Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, kebutuhan tambahan tersebut diperkirakan mencapai 84 miliar dollar AS.

Sementara itu, belanja kesehatan Indonesia saat ini disebut mencapai sekitar Rp640 triliun.

Perbandingan tersebut menjadi gambaran besarnya tantangan pembiayaan kesehatan nasional, terutama jika pelayanan masih berorientasi pada pengobatan.

Cek Kesehatan Gratis Jadi Strategi Pencegahan

Pemerintah mendorong program Cek Kesehatan Gratis sebagai salah satu upaya memperkuat pendekatan promotif dan preventif.

Melalui pemeriksaan kesehatan, masyarakat diharapkan dapat mengetahui kondisi tubuh lebih awal sehingga risiko penyakit dapat diidentifikasi sebelum berkembang menjadi kondisi yang membutuhkan penanganan lebih kompleks.

Pendekatan ini juga diharapkan membantu mengurangi beban pembiayaan kesehatan dalam jangka panjang.

Budi menegaskan, perubahan strategi kesehatan menjadi penting untuk memastikan layanan kesehatan dapat menjangkau seluruh masyarakat Indonesia secara berkelanjutan.

Dengan mengutamakan pencegahan, pemerintah berharap masyarakat tidak hanya memperoleh layanan ketika sakit, tetapi juga mendapatkan dukungan untuk menjaga kesehatan sejak dini. (*)

Bagikan pendapatmu tentang artikel di atas!

Bagikan

Pos terkait