
JAKARTA, NUSANTARA INFO: Ikatan Alumni Curug (IAC) akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) III pada 24 Oktober 2026 untuk memilih ketua umum baru sekaligus menentukan arah program kerja organisasi untuk empat tahun mendatang. Forum ini menjadi momentum bagi organisasi yang menaungi sekitar 38.000 alumni pendidikan penerbangan Curug untuk memperkuat kebersamaan dan merumuskan kontribusi nyata bagi pengembangan alumni serta pendidikan penerbangan Indonesia.
Ketua Umum IAC Elfi Amir atau yang akrab disapa Tevi mengatakan, Munas III tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga forum untuk mengevaluasi aturan organisasi dan menyusun program kerja yang lebih terarah. Kepengurusan baru diharapkan mampu membawa gagasan yang dapat diwujudkan menjadi kegiatan konkret selama periode mendatang.
Menurutnya, pembahasan dalam Munas akan mencakup evaluasi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), serta perumusan program kerja untuk empat tahun berikutnya. Pembahasan tersebut akan dilakukan melalui komite yang dibentuk dalam forum Munas.
“Yang pertama, kita mengharapkan ada hasilnya, yaitu program kerja untuk periode berikutnya. Apa saja yang terbaik untuk Ikatan Alumni,” ujar Tevi dalam wawancara menjelang pelaksanaan Munas III IAC di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Ia menilai, program kerja organisasi perlu disusun secara lebih spesifik agar kepengurusan baru memiliki arah yang jelas. Dengan demikian, IAC tidak hanya berfungsi sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga dapat mendorong lahirnya inisiatif yang memberikan manfaat bagi alumni dan dunia penerbangan.
Tevi mencontohkan, organisasi alumni dapat mengembangkan berbagai kegiatan atau gagasan baru sesuai dengan potensi anggotanya. Sejumlah ide yang berkaitan dengan pengembangan sektor penerbangan juga dapat menjadi bahan pembahasan, meskipun bentuk program dan pelaksanaannya masih perlu dirumuskan lebih lanjut.
Penjaringan Ketua Umum Baru Masih Berlangsung
Munas III IAC akan menjadi akhir periode kepemimpinan Elfi Amir yang berlangsung sejak Juli 2022 hingga Oktober 2026. Dalam forum tersebut, anggota akan memilih ketua umum untuk memimpin organisasi selama empat tahun berikutnya.
Tevi mengungkapkan, proses penjaringan calon ketua umum masih berlangsung menjelang pelaksanaan Munas. Ia berharap kandidat yang muncul dapat mewakili keberagaman latar belakang dari 10 program studi yang berada dalam lingkup alumni Curug.
IAC menghimpun alumni dari berbagai bidang pendidikan penerbangan, mulai dari penerbang, teknik, hingga operasional. Setiap program studi memiliki kepengurusan masing-masing yang terhubung dalam organisasi alumni tersebut.
Menurut Tevi, keterwakilan dari berbagai bidang menjadi hal penting agar kepemimpinan IAC dapat memahami kebutuhan alumni dengan latar belakang keahlian yang berbeda.
“Kalau bisa ada yang mewakili dari 10 program studi yang ada,” katanya.
Pada Munas sebelumnya, terdapat tiga kandidat ketua umum yang berasal dari bidang komunikasi penerbangan, teknik, dan operasional atau pengatur lalu lintas udara (air traffic control/ATC). Namun, untuk Munas III, jumlah kandidat belum dapat dipastikan karena proses penjaringan masih berjalan.
Tevi berharap ketua umum terpilih memiliki visi dan misi yang jelas untuk mengembangkan organisasi, menjaga hubungan antarlulusan, serta mendorong program yang relevan dengan kebutuhan alumni.
Pergantian kepemimpinan tersebut juga diharapkan menjadi kesempatan untuk menghadirkan gagasan baru tanpa menghilangkan semangat kebersamaan yang selama ini menjadi dasar pembentukan IAC.
Himpun 38.000 Alumni dari Berbagai Bidang Penerbangan

IAC merupakan wadah yang menghimpun alumni pendidikan penerbangan Curug dari berbagai generasi. Tevi menyebut jumlah alumni yang berada dalam lingkup organisasi tersebut mencapai sekitar 38.000 orang dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, termasuk Miangas hingga Rote.
Para alumni memiliki latar belakang keahlian yang beragam, di antaranya penerbang, pengatur lalu lintas udara, tenaga teknik, dan personel operasional penerbangan. Mereka bekerja di berbagai lingkungan, mulai dari bandar udara, kantor otoritas penerbangan, hingga maskapai penerbangan.
Besarnya jumlah alumni dan keragaman profesi tersebut menjadi potensi bagi IAC untuk memperkuat kolaborasi lintas bidang. Menurut Tevi, operasional penerbangan tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan satu profesi karena setiap bidang memiliki peran yang saling berkaitan.
“Tidak ada satu pun yang paling hebat. Semuanya saling mendukung. Pilot tidak bisa kalau tidak ada ATC. ATC tidak bisa bekerja kalau tidak ada orang teknik. Seluruhnya adalah satu kesatuan mata rantai yang saling mendukung satu sama lain,” terangnya.
Ia menjelaskan, keberadaan IAC bertujuan menyatukan alumni dari 10 disiplin ilmu tersebut agar dapat saling membantu, baik dalam hubungan profesional maupun dalam pengembangan jaringan alumni.
Organisasi ini juga menjadi ruang untuk menjaga hubungan antarlulusan yang bekerja di berbagai daerah dan institusi. Dengan jaringan yang luas, IAC diharapkan mampu memperkuat komunikasi serta membangun kebersamaan di antara alumni lintas generasi.
Tevi menegaskan, IAC berfokus pada ikatan alumni, bukan menggantikan organisasi profesi yang telah ada di bidang penerbangan. Organisasi profesi memiliki ruang lingkup masing-masing, sedangkan IAC menghimpun alumni berdasarkan keterikatan mereka dengan pendidikan penerbangan Curug.
Karena itu, pengembangan organisasi dan penguatan hubungan dengan institusi pendidikan asal menjadi bagian dari harapan yang ingin diwujudkan melalui kepengurusan mendatang.
Perjalanan Alumni Pendidikan Penerbangan Curug
IAC menghimpun alumni dari lembaga pendidikan penerbangan Curug yang telah berdiri sejak 1952. Menurut penjelasan Tevi, institusi tersebut mengalami sejumlah perubahan nama sepanjang perjalanannya, mulai dari Akademi Penerbangan Indonesia (API), LPPU, PLP, STPI, hingga Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug.
Perjalanan panjang lembaga pendidikan tersebut melahirkan alumni dari berbagai generasi dan bidang keahlian penerbangan. Jaringan inilah yang kemudian dihimpun melalui IAC sebagai wadah untuk menjaga hubungan antarlulusan.
Tevi menyebut lembaga pendidikan penerbangan Curug telah memperingati Dies Natalis ke-74. Bagi IAC, keberadaan alumni dari berbagai angkatan menjadi modal penting untuk menjaga kesinambungan hubungan antara lulusan dan institusi pendidikan.
Dalam konteks itu, Munas III diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga melahirkan program yang memperkuat peran organisasi dalam mendukung pengembangan alumni dan pendidikan penerbangan.
IAC sendiri menggelar Munas pertamanya pada 17 Desember 2017 dengan ketua umum saat itu almarhum Salahuddin Rafi. Munas kedua berlangsung pada Juli 2022 dan menetapkan Elfi Amir sebagai ketua umum untuk periode 2022–2026.
Munas III menjadi forum untuk melanjutkan kepengurusan sekaligus mengevaluasi kebutuhan organisasi setelah periode sebelumnya.
Sekitar 300 Peserta Diperkirakan Hadir
Dalam wawancara tersebut, Tevi menyebut panitia memperkirakan sekitar 300 peserta akan diundang untuk mengikuti Munas III IAC. Jumlah tersebut merupakan perkiraan peserta yang dibicarakan menjelang acara, sedangkan data pasti pendaftar dan kehadiran berada dalam koordinasi panitia.
Dengan jumlah alumni yang mencapai sekitar 38.000 orang, peserta Munas akan menjadi perwakilan dari jaringan alumni yang tersebar di berbagai daerah dan bidang kerja.
Tevi menjelaskan, ketentuan kuorum pelaksanaan Munas mengacu pada AD/ART organisasi dan jumlah peserta yang menjadi dasar undangan, bukan keseluruhan jumlah alumni. Mekanisme pelaksanaan sidang apabila kuorum belum terpenuhi juga mengikuti aturan organisasi.
Sejumlah pejabat dan pejabat struktural di lingkungan penerbangan yang merupakan alumni Curug diperkirakan hadir. Dalam wawancara, Tevi menyebut beberapa pejabat yang kemungkinan mengikuti kegiatan tersebut, termasuk pejabat di bidang keamanan penerbangan dan angkutan udara. Kehadiran mereka masih perlu dikonfirmasi oleh panitia.
Tevi berharap seluruh rangkaian Munas berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi organisasi. Ia menekankan pentingnya memilih pemimpin yang mampu menjaga kebersamaan sekaligus mengembangkan program kerja yang realistis dan terarah.
Bagi IAC, Munas III menjadi kesempatan untuk mengubah besarnya jaringan alumni menjadi kekuatan kolaborasi. Melalui kepemimpinan baru dan program kerja yang lebih terukur, organisasi ini diharapkan tetap menjadi wadah silaturahmi sekaligus ruang pengembangan gagasan bagi alumni pendidikan penerbangan Curug di seluruh Indonesia. (*)






